Minggu, 08 Februari 2009

duhai Engkau!




Aduhai Engkau!

Pada dasarnya, jiwamu yang misteri itulah ruang-ruang kosong yang tak terjamah logika biasa yang membuatku ingin mendapukmu sebagai seseorangku. Bagi orang lain, mungkin menyulitkan berhadapan dengan sosok sepertimu. Tapi tidak bagiku. Ruang-ruang misterimu adalah rumah kosong bagiku menenangkan diri.

Tidak mungkin bagiku bersama seseorang yang transparan dan segala sesuatunya serba terlihat mata. Kau harus mengerti, aku seorang penulis. Aku terbiasa dengan jalanan gelap. Jalan gelap yang datang dari percikan.

Percikan pemikiran, itulah dirimu. Engkau bukannya misterius, namun kamu hanyalah sosok yang selalu merenung untuk sejenak menciptakan pemikiran. Pemikiran kehidupan. Kau harus tahu, aku hanya bisa hidup di tempat-tempat sunyi. Di tempat-tempat sunyi itulah aku belajar memahami kehidupan ini. Ruang misterimu itu adalah tempat-tempat kokoh kesunyian itu. Nadi itu akan membesarkan nyali perang dalam diriku.

Dan sesungguhnya itu bukanlah misteri. Bagiku itu bukan tempat misterius. Akan tetapi, bagian dari sisi-sisi dirimu yang tak ingin stagnan menganalisis dunia. Bukannya kamu aneh dan sulit dimengerti, namun orang-orang hanya tak bisa menjangkau ketajaman dan kecepatan logikamu.

Kau tahu Gus Dur? Bukannya dia aneh dan sukar dimengerti. Dia hanya berpikir lebih cepat dan empat langkah bergerak lebih cepat ketimbang manusia umumnya. Maka, bukalah pintu sunyimu lebar-lebar. Aku ingin duduk di sana. Aku ingin menenangkan diri di sana. Aku ingin sendirian di sana merenungkan banyak hal. Aku ingin melepas lelahku di situ. Dan aku ingin melihatmu tersenyum. Karena itu, mungkin aku patut bertanya padamu tentangku, menurutmu apakah aku pantas untukmu, untuk kau miliki? 01 Januari 2009.

Dua Film Islami: Dua Bidik yang tak Sejenis



Film Perempuan Berkalung Surban dan
Ayat-ayat Cinta: Realitas Vs Idealisme



Judul di atas mungkin terkesan mengada-ada. Tapi inilah yang penulis rasakan di saat menonton dua film karya monumental anak negeri ini. Bagi analisis penulis, film Ayat-Ayat Cinta (AAC) mengusung idealisme di tengah-tengah realitas yang tak memihak. Sementara Perempuan Berkalung Surban (PBS) menawarkan tokoh-tokoh utama dengan segala kompleksitasnya sebagai manusia.
Pertemuan antara tokoh utama—film AAC—yang muslim dengan wanita non-muslim yang kemudian berakhir dengan kekokohan cinta dan iman, sangat ideal dan mungkin sangat langka dialami banyak orang. Pembaca bahkan boleh jadi memasuki dunia khayal akan ketulusan cinta si tokoh muslim. Betapa hebat dan menggugah ketulusan cinta di sana. Atau mungkin mengkhayalkan seandainya si tokoh adalah dirinya. Demikian pula di bagian lain kisah-kisah dalam film ini yang banyak menyiratkan kondisi ideal yang terlalu sukar diikuti. Batas poinnya bagi penulis, hanya orang-orang tertentu yang punya iman sebrilian itu.

Lain lagi dengan film perempuan berkalung surban. Film ini menggambarkan fenomena yang terjadi; baik dan buruk mengalir harmonis tanpa membumbui penonton pada satu idealisme. Penonton dibiarkan menyimak keseluruhan sisi manusiawinya manusia sehingga menemukan sendiri bentuk idealisme yang terbaik.

Hal yang menarik penulis, ketika tokoh utama dihukum pelemparan batu karena dituduh berzinah. Bu Nyai kemudian berusaha menghentikan dengan berkata, silahkan hukum dia, tapi hanya bagi yang suci dan tak pernah melakukan dosa. Diskusi yang mengena. Semua orang terdiam. Tentu saja, siapa yang tak pernah melakukan dosa dalam kehidupan ini? Menyimak dialog ini, penonton mungkin tanpa sadar berpikir, “iya benar juga sih”. Hal ini mungkin akan dirasakan penonton pada bagian-bagian cerita selanjutnya.

Memang, untuk menjadi manusia beriman, ia pastilah menempuh jalan tidak beriman di masa lalu. Karena hanya dengan pengalamanlah, seseorang mampu mengenal betapa iman itu sangat penting. Iman punya riak dan duri, setiap manusia pastilah punya simpanan dosa di masa lalu. Karena itu, tidak bisa menghukumi orang berdosa secara sepihak, dia salah dan seakan-akan tak terampuni, dizalimi, maupun diasingkan. Yang tak pernah salah dan berdosa hanyalah malaikat. Ini sepertinya ingin diajukan film ini. Sangat realitas.

Yang masih bikin penulis penasaran, adalah kata “surban”. Sejak awal film ini terputar, penulis belum menemukan bagian mana dari film ini yang mewakili judul satu itu. Harusnya, inilah inti film ini.

Di bagian agak akhir cerita, akhirnya penulis menemukan poin maksud surban. Tokoh utama—Anisya—setelah mengalami banyak hal, ujian dan cobaan bertubi, menunggang kuda dan melepaskan surban begitu saja tanpa beban. Sebuah pesan tak langsung bahwa surban bukan bagian dari Islam, tapi memang mengisi peradaban karena ia memang lahir di tradisi Arab yang kental. Dan kita sudah terlalu lama terpalsukan sampai sejauh mana batas ajaran Islam, dan mana yang tradisi Arab. Dengan kata lain, apapun yang dari Arab, pastilah Islam. Sebaliknya, Islam selalu identik dengan Arab.

Penjatuhan surban ini penulis pikir sangat jitu. Ilustrasi surban diilustrasikan apik dengan gaya khas seni yang mementingkan “pemahaman dan perenung” ketimbang pernyataan simbolik yang kentara dan gagah-gagahan. Uniknya, penonton mungkin sama sekali tak terpikirkan tentang fenomena kejatuhan surban ini. Bahwa sesungguhnya inilah intisari film ini.

Inilah bedanya di antara dua film ini. Pertarungan antara iman ideal, dan iman realistis. Iman yang fitrah. Selain itu, meski sama-sama menyimbolkan perempuan berjilbab, dua jilbab dalam film ini sangat berbeda. Antara jilbab yang berbicara langit (ideal) dengan jilbab bumi yang sedang menuju ke langit (realitas)? Dan tentu saya yakin, jika Ayat-Ayat Cinta menuai pujian, Perempuan Berkalung Surban akan memantik kontroversi. Dari sana, diskusi dan relevansi film ini menguat. Mungkin begitu. 05 Januari 2009

Senin, 26 Januari 2009

KUNCI DAN PINTU





Aku masih berdiri di depan pintu itu. Entah pintu ini terbuat dari apa. Membukanya dengan kunci apapun. Gagal. Aku pernah membenturkannya dengan batu, besi, bahkan peluru. Tidak mempan. Terbuat dari apa kau, pintu? Terakhir, tiba-tiba seluruh tubuhku luka.
“Karena kaulah, pintu itu.” Apa? Akulah pintu ini? Pintu itu? Sahutku menyahut sesuara yang terdengar. Tidak bersuara, namun nyaring seperti desing peluit. “Kau bisa membukanya, kapan saja.”
“Tidak bisa. Berbagai kunci gagal membukanya,” sahutku. “bahkan, batu, besi dan tusukan peluru luruh menjadi angin lalu.”
“Mengapa kau membuka pintu yang sudah terbuka?”

Aku ternganga. Bagaimana mungkin?
“Kau tak perlu membuka pintu. Karena pintu sudah terbuka. Kau tak perlu membawa kunci. Karena kunci itu adalah dirimu. Tidak perlu menikamnya dengan batu, besi, juga peluru. Karena sama saja melukai tubuhmu sendiri.”

Inilah petuah aneh. Datang dari suara yang bising. Aku tak menemukan makna penting di sana. Apalagi di situ.

“Karena kau selalu menganggap orang lain punya pintu. Punya kunci. Dan tidak perlu batu, besi, maupun peluru. Karena kau selalu menginginkan pintu dan kunci adalah milik orang lain. Sementara kau melupakan, kunci dan pintu juga milikmu. Dan kau selalu tak tertarik menyaksikan milikmu sendiri. Kau selalu tertarik pada apa yang kau saksikan pada orang lain. Seolah-olah, hanya merekalah yuang berhak menjadi kunci dan pintu. Dan kau, selalu membuang keakuan yang kau punya.”

“Siapa kau? Malaikat atau iblis?”
“Hatimu!”

Hatiku? Semenjak kata-kata itu terdengar, aku tak lagi ingin berbicara. Semua. Segala sesuatu, tiba-tiba seperti gantungan kunci, dan pintu yang terbuka. Dan aku adalah makhluk yang termangu di depan pintu yang mencari-cari kunci. Kadang-kadang, jika waktu mulai membosankan, aku membawa palu. Dan palu itu pun menghantam pintu. Sesekali waktu, aku mendengar raungan di situ. Raungan yang menyerupai puisi-puisi yang becek oleh lumpur. Sangat kotor dan buruk. Menjijikkan kurasa. Orang-orang memungutnya, dan melelangnya dengan harga di atas rata-rata kantong orang-orang biasa. Mungkin, ada kunci dan pintuku yang terbuang di sana. 20 Januari 2009

Seorang Sahabat






Apakah ada yang melebihi cinta sang kekasih? Adakah yang lebih rapat dari udara? Dan lebih aman dan nyaman dari benteng para singgasana para raja? Sesungguhnya ada kesepian yang jauh lebih menyenangkan ketimbang sunyi yang kau damba di kala waktu tak lagi renyah.

Hiruk pikuk di luar kamar mungkin membuatmu
seakan ingin melempar ungkapan lebih berisik
seperti peluru melesat, “brengsek”!!

Tetapi tidak dengan ini.
Saat-saat kau memiliki satu
kebersamaan kukuh dengan
sesuatu yang kau anggap “sahabat”

jangan berdalih bahwa kau
tak pernah menyimpan sunyi
maupun hiruk pikuk yang tak berisik,

carilah di semua tempat
tentu kau takkan menemukan hal paling aneh itu,
ketika yang berisik ternyata menenangkan
bahkan kau sampai lupa bahwa udara adalah dirimu.

Wahai sahabat!
Aku yakin bahwa semua percikan
memiliki cahayanya sendiri,
dan aku tahu, kau pasti akan kembali di sana.
di mana,

semua tempat adalah perjuangan,
perjuangan yang pasti berembun.
Dari sela-sela jarak, ruang, dan waktu yang berjauh
Pastilah bersauh sahutan tentang itu
Dunia yang selama ini kita perbincangkan,
bahwa setiap perjalanan yang menuju gerbang
akan selalu memiliki durinya tersendiri.

Semoga duri-duri itu,
tak melemahkanmu
suatu saat kita pasti ketemu di sana,
tempat kita berbincang tentang
masa-masa terdahulu dengan
sorot mata yang lebih sumringah
ketimbang di masa-masa itu. 25 Januari 2009

Jumat, 09 Januari 2009

DARI DUNIA YANG TAK TERDUGA






Deru rel kereta api berderit seperti desing peluru. Dan berhenti di stasiun ini. Jam masih 19.55. dari arah mata yang tersorong, sebelah timur stasiun, kegelapan menyisakan remang tanpa lampu. Lalu lalang manusia di sana bagai sosok gelap berkelayapan. Hampir seperempat jam kami duduk.

“Kamu sudah tahu kerjaku kan?” katanya agak lirih. Aku hanya menghela napas. Memang, barusan kami keliling kota. Semula dia di bagian sirkulasi, kemudian turun di bagian distribusi. Mengambil suratkabar dari percetakan dan disebar ke kios-kios. “Seorang loper koran mau melamar gadis?”

Ingin rasanya terbahak. Tapi ini perbicangan serius. Kuangkat kepala. Menyaksikan kumpulan manusia di sana, mengingatkan masa dulu. Kerinduan investigasi menyibak. Remang-remang di sana sarat misteri pergolakan jiwa umat manusia. Ah, naluri lama yang bangkit.

Tiba-tiba dia berdiri, melangkah ke daerah remang dan mengajak duduk di rel KA yang gelap. Dua perempuan juga duduk di sebelah kami.
“Mengharap naik gaji memang mustahil di saat krisis begini.” Kataku menyambung. “Kurasa kita beruntung. PHK tak menjemput.” Dia menarik napas. Mungkin kecewa aku pun ikut-ikutan mengeluh. Bahkan main ceramah. Dia sedang ingin didengarkan. Curhat yang lahap.

“Sial! Dasar lelaki kere!!!” sebuah suara keras tertahan terdengar. Sontak kami menghentikan perbincangan dan menoleh ke sebelah. Dua perempuan itu. “Udah main enak, bayar secuil! Kalau tak karena pengen anakku sekolah, kutendang dia!!!”

Tiba-tiba dia menyergap tangan sigap. Aku sedikit kaget.
“Mari kita pulang!” katanya. Aneh. “Kamu benar. Kita memang masih termasuk manusia yang beruntung jika demikian di negeri ini!”
Tanpa menoleh lagi dia menjauhi rel KA dan stasiun. Entah apa yang berlekuk di benaknya. Yang pasti, perbincangan dua perempuan itu mendadak begitu jernih. Menjernihkan kekeruhan yang mungkin tanpa batas. Surabaya, 08 Januari 2008.

Dari Titik Nol Kehidupan





Apa yang sesungguhnya dicari manusia dalam kehidupan ini? Pagi-pagi sekali dia beranjak dari rumah untuk bekerja. Untuk apa dia bekerja? Mendapat uang, katanya. Lalu kalau sudah dapat uang, untuk apa? Untuk bersenang-senang, jawabnya. Kalau sudah senang? Aku ingin terlelap. Kalau sudah terlelap?

Bagaimana kalau kusampaikan, aku melakukan semuanya, segala sesuatunya, hanya dengan satu tujuan? Cintamu? [Bagaimana kalau cinta itu sudah diperoleh? Mau diapain?] Bagaimana jika kujawab, setelah itu aku ingin mati. [Lalu kalau sudah mati?] Aku ingin hidup lagi. [Untuk apa hidup lagi?] Bertemu lagi denganmu! [Lalu apa lagi?] Bertemu denganmu sekali lagi! [kalau sudah ketemu sekali lagi?] ya, bertemu lagi untuk kesekian kali lagi. [kalau sudah?] kalau semuanya sudah terwujud, aku ingin pertanyaan dan jawaban segera dihapus dan terhapus dari jagad raya ini. Sesegera mungkin![] 06 Januari 2009

Denyut Mata Malaikat




melihat mata malaikat tiba-tiba begitu hangat,
rapat mendesak. Hempasan dingin angin
malam berdesir mengumpulkan badai.

seakan nyawa dipepet di sana, di situ
dan di sini juga.
Apalagi yang ingin diinginkan?
Karena tiba-tiba ingin kembali,

berdiskusi denganmu.
berdiskusi denganmu
berdiskusi denganmu,

bersenyawa denganmu.
Sebenarnya aku tak pernah ragu tentang segalanya,
Bahwa mata malaikat itu adalah dirimu.
Mata yang menunggu di atas tungku yang
sudah teramat sungkan menyereduk abu,
dan mengibarkan warna pelangi,
mungkin itulah denyut matamu.
Mata malaikat.
kalian mendengar dengungan itu?
Surabaya, 07 Januari 2008