Orang-Orang Beriman di Akhir Zaman (1)
Apakah menjadi beriman itu adalah
wajib? Ataukah ia adalah pilihan? Tetapi, di zaman akhir ini
ternyata Tuhan memberikan pilihan bebas kepada manusia. Karena setiap
pilihan memiliki silabusnya masing-masing.
Maka
pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi
orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah
dari tanda-tanda kekuasaan Kami, (Yunus:92 ﴿
Baru-baru ini makin marak saja aksi-aksi untuk menyadarkan sekelompok orang agar segera saja beriman kepada Tuhan seketika itu juga. Bahkan, kalau perlu dengan menggunakan cara-cara yang memaksakan diri.
Bawa pentungan untuk dipentungkan misalnya. Pesan yang ingin disampaikan barangkali jika dibentuk dalam format kalimat, mungkin semacam ini: ayo cepatlah dan sekarang sajalah kalian sadar. Dan jadilah sekumpulan orang beriman!
Dengan cara-cara demikian, mereka berpikir sekelompok orang akan
segera beriman dan sontak bersujud kepada Tuhannya dengan serta-merta. Seketika. Tetapi memang sungguh. Cara-cara demikian itu sudah lama ditinggalkan oleh Tuhan.
Ini fakta luar biasa. Bagi saya, entah menurut Anda. Bahwa sesungguhnya Tuhan sudah menanggalkan cara-cara menegur hamba-hamba-Nya dengan cara-cara yang biasa Dia lakukan di era Nabi-Nabi terdahulu: Nabi Nuh dengan banjirnya, Nabi Musa dengan tongkatnya, atau Nabi Luth dengan gempanya.
Tetapi memang sungguh. Ini menarik hati dibincangkan. Sebab konon, di zaman para Nabi yang sudah terdahulu sebelum kenabian pamungkas—Muhammad Saw-,kesadaran hanya akan tercapai sempurna bila ada kekuatan mukjizat di dalam dakwahnya, batu tiba-tiba menjadi sekumpulan roti misalnya. Atau, bagaimana seekor kodok lalu mendadak menjadi kupu-kupu, barulah sekumpulan umat menjadi segolongan orang beriman. Ini hanya perumpaan, tentu saja.
Tetapi di zaman
Nabi Muhammad ini, yang terjadi justru sebaliknya. Sekumpulan kodok yang
dadakan jadi kupu-kupu belum tentu mampu memberimankan seseorang. Sebaliknya,
alih-alih bisa menjadi beriman, mereka malah datang dengan sekumpulan rasa
penasaran dan berondongan pertanyaan: apa iya ada kodok tahu-tahu menjadi
kupu-kupu? Boleh jadi, mereka akan masuk ke dalam perpustakaan dan bisa
bertahun-tahun di dalam
Demikianlah. Tetapi
itulah uniknya. Umat zaman ini memang aduhai. Mereka beriman bukan oleh sebab
keajaiban. Tetapi oleh sebab akal-pikirnya. Aneh sekali bukan? Tentu sangatlah
aneh. Coba Anda tengok kejadian bencana alama akhir-akhir ini.
Lemparan sekumpulan batu api yang dimuntahkan oleh Gunung meletus, apakah mampu menjadikan seseorang beriman? Ia justru mendatangkan sekelompok peneliti. Mereka justru mendatangi tempat asal batu api dimuntahkan. Padahal kerap disebutkan di dalam kitab suci, lemparan batu api kerap diberikan kepada sekelompok hamba-hamba yang enggan beriman. Mungkin inilah kaidah keimanan di zaman modern sekarang?
Dalam Al Quran sendiri, betapa Tuhan justru mengajak interaksi terhadap segolongan umat manusia yang ingkar kepada kebenaran. Bahkan, Tuhan juga justru memberi mereka petunjuk-petunjuk yang bisa mereka teliti.
Apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah
satu yang
padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan
keduanya, dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang
hidup. Maka
mengapa mereka tidak juga beriman? (QS
Al-Anbiya'
[21]: 30).
Lebih-lebih
jika memerhatikan dalam surat Yunus:
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman
semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka
apakah kamu akan memaksa semua manusia agar menjadi
orang-orang yang beriman? (QS Yunus [10]: 99).
Katakanlah:
"Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
(petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka
sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu". (Yunus: 108)
Ah, sungguh. Betapa dinamisnya!
[]