22.11.07

MAAF, NEGERI KAMI SEDANG WABAH FLU

MAAF, NEGERI KAMI SEDANG WABAH FLU

Pak Parjo sedang duduk-duduk malas, pagi itu, becak tua yang menemaninya puluhan tahun mencari sesuap nafkah, tergeletak begitu saja di halaman. Wajah paruh baya itu mengkerut dua tiga senti. Matanya kosong entah sedang melalang ke mana. Mungkin sedang bertamasya ke negeri Mesir.

“Wah, pagi-pagi kok nggak ngayuh, to pak?” kataku. Pak Parjo nampak tersenyum agak berat. Aku menghampiri dan duduk disisinya. Dia menghela nafas kuat, dan menghembuskan lepas.”Kok kayak lagi muram banget, pak?”
“Makanya saya nggak kerja hari ini, nak.”
“Maksudnya?”
“Belakangan ini, penumpang sedikit sekali. Katanya sih, pada sakit flu.” Tutu pak Parjo lemah. Tubuhnya yang kurus tapi tetap segar, menampakkan tabahnya berjuang hidup. Aku jadi sangat salut.
“Sudah gitu, hari ini, saya juga terkena flu juga. Padahal tanpa mbecak, darimana dapat penghasilan?” keluhnya, aku manggut-manggut iba. Pak Parjo memiliki dua anak. Satu perempuan dan sudah menikah. Sedang satunya lagi juga perempuan. Dua-duanya sama-sama hanya tamat SMP. Setelah dua-duanya menikah, pak Paijo hidup berdua bersama istrinya. Karena kebetulan, semua anaknya ikut suami. Setiap tahun, mereka pulang mengunjungi pak Parjo.
“Flu kok barengan to, pak?” tanyaku. Terus-terang, aku merasa aneh dengan penuturan pak Parjo. Pertama-tama, dia menyatakan penumpangnya menyusut, gara banyak mengaku flu. Masak segitu banyak orang, terjangkit flu semua? Kupikir terlalu tidak masuk akal, terkesan dibuat-buat. Yang terakhir pak Parjo pun mengaku ikut tertular. Wah!
“Loh, serius nak! Lihat tubuh bapak yang kurang lemah ini.” Sahut Pak Parjo, seakan mengerti apa yang bergolak dalam pikiran. Pak Parjo batuk-batuk. Kurasa batu itu tak sedang dibuat-buat dan pura-pura. Kulihat tubuhnya berguncang-guncang, yang tak mungkin terjadi pada orang yang biasa.
“Dan, menilik kondisimu, anak juga sedang kena flu ya?”
“Lo..?” aku terbengong-bengong dengan penuturan pak Parjo. Aku juga sedang flu? Aku sendiri merasa sedang sehat-sehat saja. Meski kuakui, hari-hari semangatku agak berkurang. Tapi kayaknya itu bukan flu. Hanya kurang makan saja.
“Biasanya saya lihat, sampeyan itu penuh vitalitas. Coba bandingkan dengan sekarang? Beda toh?” apa yang diungkapkan pak parjo, sepertinya memang benar.
“Mungkin saya kurang olahraga saja, pak.” Tukasku. Pak Parjo tiba-tiba tertawa terbahak.
“Saya kurang olahraga apa, nak? Istirahat juga, saya cukup. Tapi yang namanya penyakit, bisa menyerang siapa saja. Apalagi penyakit menular!”

Perbincangan dengan pak Parjo cukup menyita perhatian. Ternyata penyakit flu tersebut, tidak hanya dialami pak Parjo saja, tapi hampir dialami orang-orang di daerahku. Orang-orang di pasar, mengaku malas berdagang ke pasar. Karena pembeli semakin berkurang tiap hari.”Katanya mereka sedang sakit flu.” Begitu kata mereka. Ini sungguh-sungguh menggelikan. Baru kali ini ada wabah flu ke seluruh daerah.
”Lah, pulangnya, kami juga mulai panas-dingin. Kata dokter, sedang terjangkit flu.” Tambah para pedagang lain yang kudatangi.

Tak Cuma di pasar-pasar, di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan swasta pun tak luput dari penyakit yang satu tersebut. Seperti yang diberitakan koran ini beberapa bulan yang lalu, di Jawa Timur, ribuan buruh melakukan unjuk rasa menunutut pembasmian flu aneh yang semakin tertebar ke seluruh penjuru negeri.
Aku geleng-geleng kepala tak habis mengerti. Sebagai seorang jurnalis kampus, hatiku tergerak untuk melakukan investigasi lebih jauh, tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa semua orang terkena flu secara berbarengan? Ini benar-benar tak masuk akal.

Langkah pertama, aku mendatangi seorang dokter spesialis flu di sebuah rumah sakit paling bergengis di kota. Dengan beberapa kali gagal mengadakan janji ketemu, akhirnya janjian ke lima, kami bisa bertemu. Kutanyakan padanya, ada apa dan bagaimana sebenarnya duduk perkara penyakit flu yang telah jadi momok itu.
“Wadduh, mas, kami sulit menjawab. Soalnya, tidak hanya masyarakat, kami, para dokter pun sedang mati-matian agar tak tertular.” Kata dokter spesialis. Dokter mengatakan, pada awalnya semua sehat-sehat saja, hingga suatu saat datang seseorang dari Jakarta berbaju putih dan berdasi.”Kami sangat yakin merekalah pembawa flu pertama di kantor kami.” Tuturnya. Dia pun menambahkan, selain pasien-pasien, para dokter satu-persatu tertular dan tak dapat tersembuhkan,”Itu terjadi setelah, kepala rumah sakit terkena strum saat ingin menghidupkan lampu.”
“Masak sesederhana itu?” mata dokter terlihat terhenak dengan pertanyaanku. Ada sorot ketakutan di matanya. Sorot itu tambah kaku, saat melirik tanganku yang memegang pena, dan alat tape perekam. Sontak ia berdiri,
”Maaf, saya harap anda segera menjauh.” Katanya cepat dan tergagap,”Jangan bawa flu anda menulari kami.” Loh? Kulihat dia mulai tersengal-sengal, dan langsung pergi. Aku bengong.

Dari dokter, aku melakukan wawancara dengan yang lainnya. Psikolog, ilmuwan, tentara sampai tukang bakso. Dari beberapa jawaban, kusimpulkan, ada dua titik poin terang, rata-rata mereka mengaku, tertular penyakit ini ketika mereka sedang menghidupkan lampu di rumahnya. Kedua, ini adalah gaya penularan yang paling banyak menghampiri banyak orang. Yaitu, penyakit ini tertular saat mereka sedang jalan-jalan pagi di sekitar halaman wakil-wakil rakyat di, baik di daerah maupun pusat.

Ada satu responden lagi, yaitu wawancara dengan para dukun. Rata-rata dukun mengatakan, flu burung sebenarnya bukan penyakit bisa.”Ini penyakit gaib. Susah mengobatinya.” Begitu kata mereka. Yang menarik, mereka mengatakan, penyakit wabah flu ternyata tak mempan bagi sosok berdasi dan suka nongkrong di gedung-gedung resmi sambil tidur-tiduran.”Sebab, hati, darah dan jiwa mereka sudah bersatu dengan penyakit ini.”

Sampai saat ini, aku masih bingung dengan penyakit satu ini. Namun, kupikir itu tak jadi persoalan, selama aku tak ikut-ikutan tertular.
Krrookkkk!
Hp itu berbunyi. Dari Rumah. Kuangkat.
Nak, bulan ini kami gk bsa ngrim uang.
Maaf, uang habis untuk nyembuhin flu.
Mg disana, km sehat saja.

Klik! Belum sempat menjawab hubungan terputus. Krookkk! Alarm sms. Kubuka, ternyata dari ayah.
Maaf tadi mati
Soalnya pulsnya habis
Hanya bisa sms
Kata servis
Hpnya terkna flu._

Bah! Aku merutuk. Tiba-tiba aku merasa seluruh tubuhku panas-dingin. Napas tersengal-sengal. Apakah aku telah terkena flu?

1 komentar:

  1. BAGUS JUGA NIY cerita

    SO bagi kamu yang pingin kerja ni ada lowongan kerja baca keterangannya di:
    www.kerjamandiri.com

    BalasHapus