mungkin sepi pun berupa malaikat?



Malam benar-benar larut. Hening menebal. Lihatlah dari sini, angkasa terlihat kelam. Beberapa potong bintang mengerling. Bening


Kadang-kadang, juga tampak pijar keperakan berlari-lari kecil di atas langit itu. Tetapi, jangan coba-coba menurunkan kepala agak turun, apalagi menunduk ke bawah.

Jangan. Tentu, rasa sepi ini kian menyulut selayak selimut. Kau akan lebih buruk dari tingkah lumut yang menempel di dinding, dan tak pindah2 dari tempatnya. Rasa sepi ini, sungguh menekan. Timbul keinginan segera menjadi letusan petasan. Huh, dasar sepi. Tak pergi-pergi.
   
“Kalau sampai si sepi minggat,” kata seseorang, “Kau akan mendapatkan kebisingan tak terhingga!” Ah. Benar juga. Jika si sepi minggat, bisa-bisa akan bising oleh hiruk pikuk. Lalu, mesti gimana?


8888
Perjalanan ini serupa bom waktu. Ia bisa meledak kapan saja. Kalo sepi menyergapmu terlalu lama, kau bisa terkapar kayak orang teler karena mabuk. Kalo bising menghinggapimu sedemikian rapat, kau bisa jadi tembok. Makanya, ada istilah jangan menjadi orang yang bermuka tembok.

Orang bermuka tembok itu tak mendengar apa-apa, selain dirinya sendiri. Sementara, kalo kau ditemani sepi, kau akan menyimak segala sesuatu seperti api membakar kayu kering kerontang. Atau, seperti cahaya dipertemukan dengan kegelapan.

 “Rugi besarnya dirimu!” kata seseorang lagi. “Nggak pernah mau serius menulis.”
 “Aku ini bukan penulis,” sahutku jengah. “Aku ini hanyalah seorang pencatat! Aku hanya mau mencatat, hal-hal yang belum tercatat. Dan apa-apa yang ingin kucatat semauku!”           
“Dasar bodoh. Buang-buang tenaga, waktu, dan energi pikiran saja kau jika demikian!”
“Nggak perlu berisik!” sergahku keras. Seseorang itu, kemudian terdiam. Diam yang lama mungkin ia memilih menjadi batu yang beku. Suasana seketika senyap.

Ah, tapi ini justru bikin merinding. Jika sepi ini berkesinambungan, tentu akan jadi pekat. Pun, lengang. Ini sih lebih dari sekadar sepi. Tetapi sungguh, nyatanya kesepian ini membawaku lebih banyak mengerti ke berbagai hal. Sepi ini, mungkin bukanlah sesuatu yang biasa.

Sebab dari kesepian ini, rasa ini, mata ini, menjadi lebih detil membaca.

Aku yakin, mungkin sepi pun, adalah dan berupa bagian-bagian dari para malaikat. Malaikat pembawa. Sebab, gara-gara itu aku bisa menyaksikan bentuk-bentuk bising, serta bisa menyimak lekuk-lekuk waktu lebih detil.

Sungguh, pada tiap-tiap sesuatu, mungkin selalu disediakan penjaganya. 
Penjaga kehidupan? Makanya, sepi ini pun begitu murka? []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar