bak bulan padam?

Bak bulan. Begitu katanya. Rerimbunan puisi kau susun semacam hutan perasaan dan ungkapan. Kau tahu, itulah kerjaan para pecinta. Ketika ia berada di kejauhan. Beda lagi, jika kau sudah tak lagi berjauhan.

Apa aku tak lagi bak bulan? Sahutmu. Tidak lagi, kataku. Seperti halnya petualang alam, pegunungan hanya dapat dinikmati kemolekannya kala kita berada di puncak, jauh dari pohon-pohon dan sawah-sawah berjejer luas di bawah sana.

Apabila kau sudah turun ke bawah sana, maka keindahan yang dipuja-puji tinggal imajinasi. Suasana jadi serba biasa, biasa-biasa saja. Makanya, kau tak lagi berpuisi untukku? Tanyamu lagi. Aku mengangguk. Sudah kubilang, kau tak lagi berada di kejauhan, sehingga suasana keindahan itu sudah tak seheroik dulu. Semua, serba biasa-biasa saja.

Tak ada yang spesial. Orang merasa wah punya mobil, justru ketika dia sedang tidak punya. Kalau sudah dimiliki, keindahan wahnya bisa jadi sirna. Indahnya punya mobil sudah terganti keinginan punya pesawat, dan apa-apa yang belum ia punya.

Apakah itu bisa berarti, kau sudah tidak lagi merasa wah memilikiku? Dan mulai berpikir, menginginkan keinginan sosok yang belum kau punya? Lebih cantik, pintar, dan semlohai ketimbang-ku?

Aku tersentak. Ow, bukan begitu maksudku, manis.
Tetapi, seperti sirnanya rasa mewah punya mobil bagi orang yang sudah mendapatkannya, bukankah tidak lebih sama dengan keinginan-mu sewaktu dulu kau tidak memilikiku? Sehingga kau pun tak lagi berpuisi lagi untukku??

Weh.Weh, apa-apaan ini? Suasananya kok jadi runyam begini?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar