bahasa cinta

Kadang terpikir bahwa semua ini sia-sia belaka. Meski begitu, aku tetap berdoa untukmu. Tak ada yang lebih menguasai hati selain itu. Aku sadar, betapa muskil apa yang aku lakukan. Tapi aku paham betul, semuanya membutuhkan ketelatenan pada diri dan pada kenyataan hidup dengan segala pancarobanya.

Aku tahu. Aku paham. Aku meyakini segala sesuatu memang semacam ini. Kapan pun berlari, maupun sejenak singgah menghirup napas, pada akhirnya sampai juga pada batas itu. Bahwa segala sesuatu berakhir pada satu bahasan, ruang-ruang ketidakterikatan pada segala ruang dan pada segala hal.

Memang, semua absurd. Tetapi dari sela-sela keabsurdan, sesuatu kemudian tercerna dan mencernakan diri. Aku paham. Tetapi, ini bukanlah cinta gila. Tidak juga cinta buta yang membabi buta. Segala langkah ini berdasarkan logika tersusun. Bahwa logika tertinggi adalah ketidaksusunan segala sesuatu. Makanya, aku menyusunnya sehingga aku paham betul ketidaksusunan itu.

Justru dengan cara begini, pusat konsentrasi kemudian terpusat. Mungkin suatu saat—manakala telah utuh galaksi-galaksi dipadu—kemudian menyaksikanmu tertaut pada selainku, maka itulah hidup. Dari sisi pancaroba antaraku dan di sela-selanya adalah dirimu, aku menemukan sisi lain dari pancaroba yang berbeda.

Aku tak pernah terlintas tentang kepemilikan. Bukan itu yang termaksud. Mencintaimu itu adalah sisi lain hatiku, dan memiliki berada pada sisi lain yang tidak berhubungan. Jika pun kemudian, ternyata pada akhirnya kita tertautkan, maka apa yang lebih membahagiakan?

Meskipun demikian, antara cinta dan kepemilikan sesuatu yang sangat beda. Tentu saja, di saat-saat perasaan cinta tertahta, segala semangat seketika tersangga begitu lega. Akan tetapi, manakala perasaan harus memiliki, tentu bersinggah perasaan tentang legenda luka-luka.

Ini bukan bermaksud alibi. Bukan bermaksud lari dari hukum-hukum luka saat tak memiliki. Akan tetapi, memang antara keduanya merupakan wilayah berbeda bukan?

Memang, bahasan ini sulit dibahasakan. Dan karena sebab itu, diam lebih sempurna daripada sekedar berbahasa yang kadang meluputkan banyak hal dari ruangannya.[]