aduhai engkau!


Pada dasarnya, jiwamu yang misteri itulah ruang-ruang kosong yang tak terjamah logika biasa yang membuatku ingin mendapukmu sebagai seseorangku. 


Bagi orang lain, mungkin menyulitkan berhadapan dengan sosok sepertimu. Tapi tidak bagiku. Ruang-ruang misterimu adalah rumah kosong bagiku menenangkan diri.

Tidak mungkin bagiku bersama seseorang yang transparan dan segala sesuatunya serba terlihat mata. Kau harus mengerti, aku seorang penulis. Aku terbiasa dengan jalanan gelap. Jalan gelap yang datang dari percikan.

Percikan pemikiran, itulah dirimu. Engkau bukannya misterius, namun kamu hanyalah sosok yang selalu merenung untuk sejenak menciptakan pemikiran. Pemikiran kehidupan. Kau harus tahu, aku hanya bisa hidup di tempat-tempat sunyi. Di tempat-tempat sunyi itulah aku belajar memahami kehidupan ini. Ruang misterimu itu adalah tempat-tempat kokoh kesunyian itu. Nadi itu akan membesarkan nyali perang dalam diriku.


Dan sesungguhnya itu bukanlah misteri. Bagiku itu bukan tempat misterius. Akan tetapi, bagian dari sisi-sisi dirimu yang tak ingin stagnan menganalisis dunia. Bukannya kamu aneh dan sulit dimengerti, namun orang-orang hanya tak bisa menjangkau ketajaman dan kecepatan logikamu.

Kau tahu Gus Dur? Bukannya dia aneh dan sukar dimengerti. Dia hanya berpikir lebih cepat dan empat langkah bergerak lebih cepat ketimbang manusia umumnya. Maka, bukalah pintu sunyimu lebar-lebar. Aku ingin duduk di sana. Aku ingin menenangkan diri di sana. Aku ingin sendirian di sana merenungkan banyak hal. Aku ingin melepas lelahku di situ. Dan aku ingin melihatmu tersenyum. Karena itu, mungkin aku patut bertanya padamu tentangku, menurutmu apakah aku pantas untukmu, untuk kau miliki? 01 Januari 2009.