1.10.12

Duh, Kapal Perang Kebanggaan itu pun Ludes!



Setelah puluhan tahun mati suri, akhirnya prajurit Negara Republik Indonesia (NKRI) kembali bergetar oleh haru oleh hadirnya Kapal Perang Trimaran KRI Klewang 625. Saya merasakan kembali rasa kebanggaan pada prajurit Negara Republik Indonesia (NKRI).

Canggih: KRI Klewang 625


Membaca sepak-terang pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi favorit saya sejak bisa mampu membaca aksara. Bukan hanya soal keperkasaan mereka di medang perang mengusir penjajah.

Akan tetapi juga soal tekad juang, nasionalisme, dan kepedulian dan kebersamaan jiwa-raga mereka terhadap rakyat. Mereka menyatu dengan rakyat. Mengangkat senjata melalui strategi perang gerilya, bersatu-padu menyusun kekuatan dengan kerja sama yang luar biasa dalam dengan rakyatnya.

Ada tiga kisah yang paling saya sukai soal militer NKRI yang memiliki kesan mendalam
bagi saya. Pertama, sosok dan sepak terjang seorang Panglima yang tiada duanya, tiada gantinya, yaitu Panglima Sudirman. Tak peduli sedang sakit sekalipun, beliau tetap siaga dan powerfull dalam memimpin pasukan melawan penjajahan di tanah air. 

Tetap Bergerilya :Sang Jenderal Ditandu sebab sakit


Sosok kedua, adalah Bung Tomo. Suaranya menggelegar dan mengumandangkan takbir, dan berhasil membakar daya juang, dan spirit rawe-rawe rantas, malang-malang putung seluruh rakyat NKRI di daerah Surabaya. Walau dengan senjata seadanya, sementara pihak musuh bersenjatakan senjata paling modern, rakyat dan tentara bersatu-padu melawan hingga tetes darah penghabisan. Kota Surabaya pun luluh-lantak, namun manusia di dalamnya terus saja melawan tanpa jeda. 

Bung Tomo


Ketiga, upaya pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Ini sungguh luar biasa, dalam perlawanan sepanjang perjalanan sejarah NKRI. Saya sebut begitu, dalam arti, karena NKRI benar-benar mengeluarkan keperkasaannya di laut, darat, dan udara. Membaca sejarah satu ini, saya seperti menyaksikan kebangkitan Majapahit di era modern. Negara yang kuat di laut, darat, dan udara.

Dalam merebut Irian Barat, ketangguhannya tampak di udara dengan lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Misalnya, Pesawat MiG-21 Fishbed, salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat yang melebihi pesawat tercanggih Amerika, yaitu pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara di pihak Belanda sendiri, masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.   

Dengan kekuatan armada laut, terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet yaitu dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi, dengan bobot raksasa 16.640 ton. Seperti sudah diketahui oleh sejarah, Irian kemudian berhasil direbut dari Belanda. Di zaman Presiden Soeharto, pasukan militer Indonesia seperti tak ada kabarnya lagi.

Jika saya misalkan, zaman orde baru sangat mirip dengan kondisi Kerajaan Mataram, di mana menjadikan daerah pedalaman atau daratan sebagai basis kekuatan. Tak seperti halnya Majapahit, Kerajaan Mataram meninggalkan laut dan menekankan klekuatan di darat. Walhasil, mudah dipatahkan serangannya oleh Belanda. Karena lebih menguasai antar-medan, baik darat maupun di laut.

Haru Mendalam KRI Klewang 625
Kehadiran Kapal KRI Klewang 625, sungguh mengobati kerinduan panjang akan keperkasaan NKRI. Bisa membangunkan kembali harga diri, martabat, dan kehormatan NKRI dan rakyat Indonesia Raya.

Bagaimana tidak, NKRI tak bisa berbuat banyak ketika rakyatnya yang bergantung pada kekayaan laut, diganggu oleh negara tetangga. Pencurian ikan, kayu ilegal, dan kekayaan bangsa lainnya, terus berlangsung tanpa bisa ditindak dengan serta-merta. Ketiadaan teknologi modern, memungkinkan pihak luar sangat leluasa masuk dan mencuri kekayaan sumber daya alam.

Bahkan, ketika tanah dirongrong dan juga diserobot, NKRI hanya bisa mengelus dada. Tanpa bisa berbuat banyak. Terbakarnya kapal kebanggaan ini, semoga saja tak memadamkan NKRI untuk terus lebih maju dengan kemandirian. Maju terus prajurit-prajurit kebanggaan Nusantara!

Spirit Bambu Runcing: Merdeka atau Mati






Tidak ada komentar:

Posting Komentar