15.11.11

SKETSA PAGI

tak seperti sejarah
yang tak pernah terulang
nostalgia selalu terulang
serupa gemuruh tentang kabar tak terbagi.
Hingga pagi tak terjenguk?


Duduk nongkrong di emperan rumah tetangga. Secangkir kopi panas, dan ditemani sekupul asap rokok yang membubung; tepat sejauh mata memandang terpusat ke belahan timur. Ufuk merah saga menyemburat.

Di sela-selanya, sinar keperakan matahari membias. Begitu terang. Sesekali, burung-burung melayang terbang dengan enaknya, seakan alam raya cuma miliknya semata bertengger.

Agak menurun ke bawah sedikit, tangkai-tangkai pepohonan melambai sumringah. Begitu manis. Turunkan mata lagi, tepat di hamparan tanah. Rerumputan bergoyang lambat, embun di kepingnya mengerling. Begitu cemerlang.

Sejauh mata memandang, pejamkan perlahan sebentar. Dan bukalah.Tidak perlu jauh-jauh menatap. Lebih dekat di sekitarmu, dalam dirimu; di relung batinmu, tentang pikiran-pikiran itu...,

Ada apakah di situ?

Pagi. Ya, pagi. Pagi tentu lebih semarak dari hari-hari biasa kala kegelapan memalamkan perasaan. Tentu, pagi merekatkan keceriaannya yang ”berasa”. Tak seperti kala tercenung di malam-malammu, yang melekatkan kegelapan pada pikiran.

Juga, melabuhkan raut tentang tidak semaraknya perasaan. Terkadang ketenggelaman yang menggertak; bukan hanya oleh gelapnya hati. Juga, disebabkan cuaca suasana kadang ikut menenggelamkan situasi?

Oleh karenanya, ikutlah denganku subuh ini. Kuajak kau bertemu pagi. Pagi? Ya, pagi. Pagi. Sebab, kehidupan selalu menghadiahkan pagi, setelah malam-malam yang menggelapkan kegelapannya.

Nah, bisakah kau terbangun sekarang?

Pagi hampir membuka mata. Menunggu keceriaan terbaikmu. Bangunlah. Tentu, setelah itu semarak senyummu melebihi pagi Ya. Melebihi pagi. Pagi? Ya. Pagi.

[apa kau sudah terbangun sekarang?]
2003

0 comments:

Poskan Komentar