1.11.11

Sepasang Gelap

Aku telah memejamkan kedua mata, 
agar selaput pandangan tertutup. 
Agar dunia luar tidak lagi bersemangat mengintip. 

Dunia dalam, itulah maksudku. Dunia dalam, di mana tersimpan rapat dalam hatiku, dalam pikiran, imajinasi, dan mungkin pula yang tersembunyi dalam ruang lamunan.

Aku ini sedang ingin menggelapkan diri di kegelapan:: kegelapan yang pernah dimiliki dan disinggahi para pemabuk, para sakaw, atau yang dimiliki para pertapa. Di mana, dengan kegelapan itu, ia benar-benar yakin di mana ia sungguh-sungguh bisa menjamin dirinya bisa berdiam sendirian. Hanya seorang diri.

Aneh memang. Kala dunia luar ditutup, dan berharap tak satu pun mengganggu kedamaian ini, dunia dalam ini nyatanya jauh lebih risau, lebih hiruk pikuk ketimbang dunia luar. Lihatlah, ada beberapa sosok-sosok yang tersipu-sipu malu ketika kubuka dunia dalam ini. Ah.

Lihatlah, di situ akal. Ia lebih rame darimu. Dia petentang petinting bak Friedrich Nietzsche  di puncak Awan, atau kadang seasyik Adolf Hitler kala memelintir kumis.Di sana, ada lamunan. Ia lebih pendiam dan penyendiri melebihi semut yang berbaris. Di situ, ada sosok paling bergairah. Dialah sang imajinasi. Berkali-kali dia menghampiri dan mendesak mengadu ambisi. Bercerita padaku tentang Napoleon Bonaparte dengan pelatuk pistol, atau tentang Sultan Agung dengan gemulai selendang Putri Roro Kidul yang membuai pantai.

Ah. Di dunia ini, ternyata tak sungguh-sungguh ada dunia, di mana kau bisa tenang sendirian. Kehidupan ini, mungkin memang memiliki dua tempat yang pasti kau temukan jika kau pernah memejamkan mata, setelah kau membuka matamu. Atau, ketika kau membuka kedua matamu, setelah mata terpejam. Ya, pejamkan matamu sebentar saja. Sejenak kemudian bukalah mata itu.

Bagi yang hobi membuka mata, maka tutuplah mata itu barang dua jam. Maka, akan kau simak dua tempat yang saling bersinggungan itu. Ia memang sepasang sisi. Aku ingin memberinya satu nama:::

sepasang gelap.

Januari 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar