3.11.11

MEDITASI

Malam itu gelap. Yang tertangkap mata, mungkin hanyalah hitam legam. 


Ia nyata terpampang di pelupuk. 
Seluruh wujudmu seperti terbungkus balutannya, 
keseluruhan wujud itu pun sirna 

Kau tahu, ini ajaib. Kau melihat sesuatu yang tak terindera oleh pendengaran telingamu, tak tersentuh rabaan kulitmu. Tetapi matamu nyata menyimak hitam legam ini.

Ini sungguh ajaib. Benar-benar keajaiban. Kau tahu,
jika kau berada di depanku, kau tentu tidak akan tahu bahwa aku sedang berada di hadapanmu.

Apa aku bisa menghilang?
Ya, benar.
Wujudku memang bisa menghilang dari sorong matamu.

Ini ajaib.

Kau tahu, untuk membuktikan fakta bahwa keberadaanku, kau tak bisa menggunakan mata, kau harus gunakan pendengaran telingamu.

Dengan bersuara, maka kau tahu, keberadaanmu ini sedang ada di mana.

Kau mungkin berusaha menemukanku dengan rabaan tanganmu. Setelah mendengar, kau buktikan dengan rabaan itu.

Pada satu titik, kau tentu mungkin belum yakin bahwa ini benar-benar diriku. Maka, satu langkah lagi kau pasti tahu, ini memang diriku.

Kau tahu apa satu titik itu? Bahwa, ini fakta adanya?

Kurasa, kegelapan tidak harus membuat bingung mata.
Karena masih tersisa satu hal:

hatimu.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar