1.11.11

Bukan Lamunan

Langkah ini terasa keras dan berat diangkat. 
Tak ada tali, maupun pengikat yang menjadi kendala kaki ini bergerak. 



Tetapi sungguh aneh, kaki seakan digandoli beton berkilo-kilo.

Bukan hanya kaki, dada ini juga seperti tertimbun bata. Bahkan ubun-ubun juga seperti diotak-atik oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh panca indera. Pikiran ini, meski sedang berdiri tegar di tepi sungai ini, sesungguhnya tak benar-benar singgah di situ. Mata ini, pun tak melihat sungai dengan segala yang berdiam di situ. Telinga ini pun, seakan tak menyimak bebunyian arus yang deras.

Benar juga kata orang-orang, badan ini sekedar wadah bagi jiwa. Ke mana jiwa terpusat, di situlah ia berada. Meski tubuh berada di tempat itu, boleh jadi ia sedang berada di tempat ini.

Boleh saja orang-orang, tetangga, maupun orang yang hilir mudik di sekitarmu berbilang; aku melihatmu mematung di pinggir sungai. Akan tetapi,
jika jiwamu sedang merambah dunia antah berantah, maka tinggal tubuhmu saja yang berdiam di situ.

Orang-orang itu, takkan bisa kau lihat kehadirannya. Karena matamu sedang menyaksikan yang lain. Telingamu takkan mendengar suara-suara, karena pendengaranmu sedang mengikuti jiwamu berkelana.

Konon, inilah yang sering disebut banyak orang dengan alam lamunan. Sebuah alam, yang kabarnya lebih tenang dari kolam. Lebih rapi dari api. Atau lebih lembut ketimbang air. Ada juga yang bilang, ia malah lebih ribut dari kabut yang datangnya dari laut.


Aduhai Engkau Penghulu Negeri
Tetapi bila itu dirimu yang melakukan, aduhai engkau penghulu negeri. Di mana pun jiwaragamu berada, pusatnya satu. Pusat keummatan. Kau rela pasang badan, demi mereka-mereka yang tertindas. Kau benar-benar mewarisi kearifan penghulu kenabian, wahai guru.

Setiap pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu: ke mana pun ia merambah. Tak sekedar lamunan biasa. Rupanya, penglihatan dan pendengaranmu cuma pada satu dunia antah berantah. Lamunan. Lamunan, di mana kau sedang mengaktualisasi pemikiran ke jalan manifestasinya.

Ah, aku ini sedang melamun, ataukah sedang mengkhayal saja? Tak seperti keagunganmu yang kadang dianggap lamunan oleh orang-orang yang menyimakmu dari jarak pendek, aku sedang berupaya menjaga jarak.

Agar lebih jauh menyimak. Lamunan itu, ternyata bukanlah alam kosong. Karena berkatmu: kebersamaan ini lebih langgeng setelah tercabik primordialisme fanatis.

Selamat jalan guru. Penghulu keabadian, pasti melapangkan tangan menyambut kedatanganmu. Berkah doa untukmu. Kami menangis bukan karena sedih. Kami menangis, karena sedang terharu. Betapa besar dekapan itu.

Dekapan yang kadang dianggap lamunan oleh orang-orang, nyatanya ia berupa tindakan welas asih tanpa pamrih. Dan kami begitu ringkih menyadarinya. Bahwa, semua itu buah pemikiran.

Pemikiran kesentosaan, kesejahteraan, kemakmuran, gotong royong, tenggang rasa, welas asih sesama, kemerdekaan, dan kelindan tindakannya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar