Rahasia sukses sempurna, ketika tak dimulai dari pikiran positif. Tapi rasa positif.
Apa kata-kata di atas patut dipercaya?
Kalau saya sih, ya percaya-percaya saja.
Tokh, ndak ada ruginya. Juga tak perlu bayar.
Alasannya konon begini; terlalu banyak mengolah akal—sementara sisi rasa terlupakan, hanya akan membuat seseorang lebih banyak memanfaatkan sisa-sisa waktunya untuk mengkritisi, mendebat; dan terforsir memenangkan situasi. Jelasnya, membuat kotak, kau tunduk atau pilih jadi lawan.
Apa kata-kata di atas patut dipercaya?
Kalau saya sih, ya percaya-percaya saja.
Tokh, ndak ada ruginya. Juga tak perlu bayar.
Alasannya konon begini; terlalu banyak mengolah akal—sementara sisi rasa terlupakan, hanya akan membuat seseorang lebih banyak memanfaatkan sisa-sisa waktunya untuk mengkritisi, mendebat; dan terforsir memenangkan situasi. Jelasnya, membuat kotak, kau tunduk atau pilih jadi lawan.
Bicara soal kalah menang, saya teringat
Ahmad Faiz Zainuddin. Sosok yang membawa EFT (emotional freedom techniques) ke Indonesia dengan meletakkan unsur
spritualitas, yaitu S-EFT.
Poin penting yang saya ingat darinya, jika mau usaha laris dan langgeng, bukanlah berpikir untuk memenangkan persaingan dengan lawan yang kita nilai sebagai saingan.
Tetapi, berusahalah untuk memenangkan kebutuhan pelanggan. Maka, lupakanlah usaha memenangkan pertarungan dengan lawan bisnis. Karena hal itu tindakan sia-sia dan melelahkan.
Poin penting yang saya ingat darinya, jika mau usaha laris dan langgeng, bukanlah berpikir untuk memenangkan persaingan dengan lawan yang kita nilai sebagai saingan.
Tetapi, berusahalah untuk memenangkan kebutuhan pelanggan. Maka, lupakanlah usaha memenangkan pertarungan dengan lawan bisnis. Karena hal itu tindakan sia-sia dan melelahkan.
Positive
Feeling Versus Positive Thinking
Diam-diam saya masih penasaran dengan
konsep terbalik Erbe Sentanu tentang positive feeling Versus positive thinking. Sepertinya itu pandangan masuk akal. Setelah
dicerna-cerna ulang, perbedaan besar keduanya adalah; Positive Thinking dimulai atau diawali dari usaha `penyangkalan dari keadaan sebenarnya. Sementara Positive Feeling dimulai dari penerimaan keadaan.
Dengan menerima keadaan, hati dan pikiran tak saling bertentangan. Artinya,
menjadi selaras antara keadaan dan pernyataan pikiran. Keadaan yang tenang membentuk semua
jenis informasi dari luar bisa dengan mudah diterima. Jika semua informasi
mudah diterima, efek selanjutnya;
kita akan lebih mudah menemukan peluang, dan mengambilnya sebagai sebuah
keputusan. Termasuk keputusan yang jenius.
Sisi buruk dari Positive Thinking, ia selalu membangun motivasinya dengan cara
membalik keadaan. Maka, terjadilah penyangkalan dari sisi internal diri
seseorang. Terjadi perang batin. Positive
Feeling tidak demikian. Ia menerima
keadaan terlebih dahulu. Dan mensyukuri tiap-tiap apa yang sudah dimiliki
seseorang di dalam dirinya; napas, tubuh yang sehat, pergaulan yang mendukung,
dan seterusnya.
Sementara Positive Thinking, ia membayangkan apa-apa yang dia tidak miliki, seakan ia miliki. Efek selanjutnya; ia
selalu kurang. Kurang dan kurang. Karena ia terfokus pada hal-hal yang bersifat
kekurangan. Akhirnya, menimbulkan
sikap ambisius. Sikap ini selanjutnya
akan menjadi merk dalam setiap
pencapaian target.
Maka, lebih lanjut, menurut Sentanu, maka
lebih baik merasa kaya, ketimbang, berpikirlah seakan kaya. Merasa kaya, membuat
seseorang merasakan apa saja yang sudah menjadi miliknya. Dan bukan apa saja yang belum dimilikinya. Ia pun
terfokus pada keberlimpahan. Sikap ini
selanjutnya akan menimbulkan pikiran menjadi terang. Terang menyimak peluang dan kesempatan.


Pak job Ads and advertisements for Karachi,Lahore,Quetta,Peshawar,Multan,Hyderabad,Rawalpindi,Islamabad and http://allpkjobz.blogspot.com all cities of Pakistan.
BalasHapusmaaf, maksud Anda bagaimana mbak Ainna??
BalasHapusterima kasih atas kunjungannya ke blog saya...