11.10.10

Jalan Buntu

Beberapa naskah masih teronggok tak jelas di meja pikiran. Semuanya harus diselesaikan saat itu juga. 


Sampai berhari-hari terlalui begitu saja. Belum satu pun yang terjamah sempurna. Saya heran, kenapa ide sedemikian mampet bergerak? Jika sampai batas deadline belum terselesaikan, pertaruhannya adalah integritas.

Bahwa saya ini nyatanya tidak memiliki kesanggupan menyelesaikan kerjaan. Dalam beberapa rapat terakhir, kinerja saya kerap dipertanyakan. Bahkan, mulai diragukan. Bahwa jangan-jangan, saya ini tidak punya keahlian. Jangan-jangan, saya ini hanyalah pekerja dengan kemampuan omong kosong? Situasi ini memang njlimet. Batas waktu deadline kini terlampaui, namun naskah itu masih tereksekusi dengan baik.

Sebenarnya, jauh di lubuk pikiran, saya pikir naskah yang akan saya selesaikan itu tidak sulit-sulit amat. Masalahnya, saya benar-benar buntu. Tak ada jalan keluar sama sekali. Saya benar-benar merasa sangat bodoh.

Sempat terpikir, saya semestinya segera mengundurkan diri dari perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab saya yang tak bisa memenuhi tuntutan tugas rutin. Saya merasa kehadiran saya ini sama sekali tidak bisa membantu mengatasi keadaan.


Lama-lama saya terpikir. Sebenarnya, apa itu jalan buntu? Apa yang menyebabkan jalan yang mula lapang, tiba-tiba gelap? Jika jalan sudah buntu, lantas bagaimana mengembalikannya kembali lapang seperti mulanya? Tak ada jawaban.

Tapi samar-samar, di kepala ini melintas bayangan ketika pulang kampung kemaren. Di mana, bis terhenti beberapa jam. Meski bergerak sesekali, kecepatannya seperti siput. Saya heran, meski mau lebaran, tapi ini kan jalan raya di Pulau Madura. Mana mungkin ada jalan yang macetnya macam itu?

Ternyata itu mungkin. Dan jawabannya terlihat satu jam kemudian. Macetnya jalanan, bukan disebabkan saking banyaknya kendaraan. Akan tetapi, jelang lebaran, pasar tradisional yang berlokasi di sisi jalan raya, menjadi potensi sumber kemacetan.

Banyak orang lalu lalang; tukang becak yang seenaknya sendiri berbelok; kendaraan-kendaraan menghentikan penumpang di pasar tanpa merasa berdoa, dan tak cakapnya petugas mengatur lalu lintas berkumpul jadi satu kesatuan: macet 100%!



Kalau begitu, jalan buntu yang saya alami pun pasti demikian adanya. Bukan sebab saya memang bodoh, atau otak yang mulai tumpul. Akan tetapi, pasti ada sebuah garis tertentu yang belum, dan harus saya temukan. Garis itu, adalah garis yang berisi hiruk-pikuk seperti di jalanan ketika saya pulang kampung.

Di mana, banyak orang lalu lalang tanpa melihat suasana jalan; tukang becak yang seenaknya sendiri berbelok; kendaraan-kendaraan menghentikan penumpang di pasar tanpa merasa berdoa, dan tak cakapnya petugas mengatur lalu lintas berkumpul jadi satu kesatuan: macet 100%!

Dan, pikiran pun tergenang. Tergenang oleh bayangan pikiran itu sendiri. Genangan macet yang tak bisa dihentikan. Ternyata, jalan buntu itu, adalah suasana pikiran saya sendiri? Berarti, nggak perlu naik bus.Naik motor saja.Atau jika tidak, jalan kaki sajakah? Ihiks. 12 Oktober 2010

2 komentar: