7.7.10

Keadaan Pikiran

Memiliki sebuah karya, tidak melulu soal kebanggaan. Lebih dari sekadar itu, selesainya sebuah karya merupakan level kepuasan yang tiada tara dan tiada duanya. Kita hidup, kemudian meninggalkan dunia fana tanpa intensitas karya sama sekali, sama saja memiliki benda-benda yang bagus dan istimewa, tapi kita hanya bisa melihatnya saja.

Benda apa yang paling istimewa dan spesial dari makhluk bernama manusia? Saya yakin, benda itu namanya adalah bakat. Setiap orang sudah pasti, punya yang namanya bakat khas. Dengan bakat tersebut, seseorang merasa terpuaskan ketika berhasil menetaskannya dalam bentuk karya.

Beberapa bulan berputar tanpa henti, ternyata saya kena imbasnya. Selama bulan-bulan antara 2009-2010, saya sekedar menulis cuma karena tugas atau kerjaan rutin mengais rezeki.

Selebihnya, waktu-waktu luang yang tersedia tergunakan demi memenuhi jeda istirahat. Tetapi, saya merasa ada sesuatu yang hilang separuh. Nyatanya, ada ruang yang tak tergali yang membuat diri saya selalu berada dalam ruang yang asing dan gersang. Apapun yang saya perbuat, seolah hampa dan hambar.

Ya. Saya telah melupakan, saat-saat di mana saya menulis sesuai dengan impian dan mimpi-mimpi saya selama ini. Lalu, kenapa saya tidak mau, dan tidak pernah mau menulis sesuai impian dan mimpi-mimpi itu?

Sebabnya adalah asumsi. Asumsi bahwa saya tidak punya waktu banyak untuk berpikir. Asumsi bahwa menulis akan menjadi beban, dan akan memberatkan waktu-waktu jeda istirahat.

Padahal, bila dikalkulasi, waktu luang itu banyak. Bila dipikir ulang, menulis itu bak darah dan daging yang tak bisa dibuang begitu saja. Yang berat itu bukan tidak adanya waktu, tetapi yang berat itu adalah asumsi bahwa keadaan tidak mungkin mencukupi.

Maka, hati-hatilah dengan asumsi yang kita putar di kepala. Sebab, asumsi tersebut bakal menghambat banyak hal, termasuk tujuan utama hidup ini. Setiap kali ada kesempatan yang datang, asumsi tersebut bakal muncul dan menjadi alarm.

Karena itu, seberat apapun sebuah anggapan yang berputar di kepala, berilah asumsi yang cemerlang bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa, apapun yang direncanakan, akan berjalan sesuai rencana.

Sebab, yang berat bukanlah keadaan di depan mata, tetapi keadaan yang berada dalam pikiran. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar