9.1.09

Denyut Mata Malaikat




melihat mata malaikat tiba-tiba begitu hangat,
rapat mendesak. Hempasan dingin angin
malam berdesir mengumpulkan badai.

seakan nyawa dipepet di sana, di situ
dan di sini juga.
Apalagi yang ingin diinginkan?
Karena tiba-tiba ingin kembali,

berdiskusi denganmu.
berdiskusi denganmu
berdiskusi denganmu,

bersenyawa denganmu.
Sebenarnya aku tak pernah ragu tentang segalanya,
Bahwa mata malaikat itu adalah dirimu.
Mata yang menunggu di atas tungku yang
sudah teramat sungkan menyereduk abu,
dan mengibarkan warna pelangi,
mungkin itulah denyut matamu.
Mata malaikat.
kalian mendengar dengungan itu?
Surabaya, 07 Januari 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar