2.1.09

Dari balik Pekatnya Imajinasi



















Dunia yang sempit. Duduk di meja kerja yang sama. 
Ruang luas hanya tertopang, lagi-lagi, oleh bidikan jendela yang tidak seberapa lebar. 

Dan juga hawa dingin, yang kadang menyengat dari alat pendingin di dinding. Hingga sejenak, membikin gerah minggat. Meski mungkin di luar sangat panas. Dan ketika jendela-jendela dibuka, angin pun mulai berhembus.

Kau tahu, ketika angin berhembus, dunia tak sesempit daun kelor yang diagung-agungkan itu. Ia lebih luas ketimbang itu. Percayalah, sungguh. Tapi meja ini memang menyempitkan hal-hal yang tidak sempit. Tetapi kalau dipikir-pikir, dunia yang sesempit ini nyatanya lebih luas dari ruang di bawah sana. Tempat orang-orang bekerja bukan dari meja kerja. Mereka yang berkeliaran ke luar.

Jika mencoba turun ke bawah, sangat mudah menyaksikan keluwesan orang-orang yang hilir mudik, namun sorot mata mereka tak seluas keluwesan ruang kosong yang mereka simpan. Nyatanya, ruang sempit di meja kerja lebih luwes.

Yap. Mereka bekerja dengan fisik. Dan kesadaran itu terpancang pada satu ruangan. Ruangan yang terasa menyempit. Menggotong barang-barang, dan bolak-balik mondar-mandir ke sembarang tempat. Namun, hanya di situ-situ saja.

Tapi tidak di meja kerja ini. Ia adalah lapangan. Lapangan berkali lipat luasnya dari lapangan bola di sana itu. Kau tahu nama lapangan luas ini, yang beredar di meja yang kerja sempit ini? Yang—bahkan—membuatmu menjelajahi dunia yang seukuran bola di peta itu?

Imajinasi. Ya, imajinasi. Itulah imajinasi. Apakah imajinasimu mulai lebih liar dan mekar sekarang? Dan mengatasi ruang, tempat dan, waktu? Dan singgahlah sejenak di ruangan lain di situ. Ruangan pikiran. Apakah kau mulai sadar, kau sedang bekerja? Atau justru sedang sibuk berkhayal?

Paranoid? Tidak. Salah bila kau menyebutnya demikian bahwa paranoid suatu hal yang nisbi. Maupun, yang membuatmu sah untuk merasa terpojok. Itu bukan penyakit. Itu benda ganda. Benda ganda pikiran yang mulai menata dirinya yang mulai menatap sisi lain dari dunia yang pernah kau kenal, dari arah yang mulai berubah.

Ya, berubah. Berubah dari konsep yang selama ini mengungkungmu pada satu hal. Paranodi, adalah dunia yang menemukan sisi-sisi berbeda dari yang pernah diketahui. Ia adalah penemuan. Penemuan. Penemuan Kebenaran. Kebenaran yang tidak mutlak.

Kau tahu? Menganggap kebenaran itu mutlak, sama saja—kau—adalah kitab suci. Kebenaran hanya tercetak dalam kitab suci. Itulah sebabnya, kebenaran tidak akan pernah ketemu, kecuali beberapa helai. Karena itulah, buku-buku tak pernah gagal terjual. Dan para penyair tak pernah kehilangan singgasana gara-gara hal itu.

Itu pulalah, yang menyebabkan aku masih di sini. Meja kerja yang sempit dari intipan angin dari jendela yang pelit. Dan kita merasa lebih luas setelahnya. Kesempitan yang menyadarkan keluasan.

Sungguh. Surabaya, 01 Januari 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar