9.8.08

"sajak-sajak bisul di penghujung"

“gemerisik purba”


salah bila kau bilang angin yang tertiup sama saja dengan bisul yang setia. Selalu saja, badai yang kau semprit justru membangunkan tidur lelapmu.

sepanjang angin masih tertiup dan bisul-bisul masih setia, badai itulah garis merah yang masih belum kau tahu. Sementara hapusannya justru makin mengukus.

Karena itu, sunyi senyap menghadirkan gemerisik purba. Surabaya Agustus 2008.



“tembok”


angin menjadi batu, malam menjadi padam?

Jika demikian, sebaiknya tembok yang masih tergemgam saatnya diberi selimut. Surabaya Agustus 2008.


“lembaran”


Bukalah lembaran itu. Akan terlihat, di situ semuanya berupa lembaran. Bacalah tulisannya. Akan terbaca, semuanya berupa tulisan. Karena itu, kau jengah dan membuangnya. Buka dadamu, mengapa kau terbelalak?


kau penasaran, dan mengulang membuka dan membaca. Lalu, kenapa wujudmu jadi selembar? Lembaran yang lain, kau buang ya? Surabaya Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar