17.8.08

"jalan cinta"

Kau, Tuhan, dan Meja Hijau
mengaminimu sebagai kekasih
dan lontar-lontar seperti bernyawa
bergerak sendiri tentang dirimu yang hilang
karena terselip tak muncul di beberapa edisi

hampir saja Tuhan kuajukan ke meja Tuhan
kalo saja sajakku taka tang dari menara langit
dan nyeletuk
tuhan berkata, katanya, bukannya dia hilang maupun terselip.

lalu apa? Sergahku

dia hanya sedang terselip di dasar sanubarmu.
makane, tak tersaksikan oleh sudut pandang.
bah. Ono-ono wae!
Surabaya Agustus 2008


“Sajak Pedal Sepeda”
puncak-puncak kesunyian itu kalap
bila bintik jerawat
berbintik-bintik menjelma sayatan roda-roda

bagaikan sosok Srikandi mayapada maupun kayangan
menyerupai tupai
melompat-lompat kemudian tertelan deru

kalau boleh berjanji, kata-kata mulai rumit diungkit
makin tak tersapih melebihi lihainya tupai,
melompat-lompat konkret di depan hidung
kemudian tak terkurung.

seumpama batu cadas, itulah sajak-sajak tak tandas
berlarian ke pinggiran sudut aus
menyimpan denyut.

apa mau dikata
barangkali karena berseraknya sampah yang semrawut
maka, eloknya permata tak tertata?

kemudian berguling di lantai pecah berkeping-keping
tajam melukai mata kaki?

itukah inspirasi? Datang selalu membawa pengawal berduri?

makanya, segalanya tak kunjung berhenti berteduh?
jika tiba-tiba terseduh?
dan lalu kau sebut itu sajak?

Kau, sajak yang yang tertinggal mengganjal bagai pedal sepeda.
tak heran, aku kebingungan memberinya notasi?
Surabaya, Agustus 2008

1 komentar:

  1. lom pernah naik sepeda,jadi gak isa bikin sajak nih gw,he...he...

    BalasHapus