10.7.08

WANITA






















Aku barusan keluar dari pagar rumah, 
ketika pintu rumah sebelah terkuak. 

Krikk!!

Keluar sesosok perempuan berambut panjang dengan kepala tertunduk ke tanah.

Pintu ia tutup. Sekilas, ia mengangkat kepala dan mataku tertatap. Spontan dia tersenyum. Amboi, betapa megah sorot mata itu tertambat di pandangan. Indah. Indah. Dan, indah.

“Heii, ada apa mas?” amboi dia menyapa, kawan. Manis telinga mendengar. Sialnya, aku terlalu terlambat mengalihkan pandangan bahwa sesungguhnya aku memang tidak sengaja menatap. Tapi aku masih beruntung, di sebelah kanan pipinya, noda hitam tebal terkurat bagai lukisan alam. Uh, ada alasan juga buat mesam-mesem dan memerpanjang pertemuan.

“Hehe, itu ada noda hitam tebal di pipimu.” Matanya menyipit, tangannya meraba pipi. Kemudian tanpa basa-basi kembali masuk kamar, menutup pintu lambat. Aduhai, irama pagi yang gemulai. Pintu kembali terkuak lambat, dia keluar dengan senyum sangat simpul.

“Saya habis masak`e..” tuturnya tersipu. Aku mesam-mesem lebih halus.“Oya, terima kasih.” Katanya sebelum berlalu dengan tas berukuran sedang dan sepertinya sudah usang.


WANITA. Gus Mus dalam Puisi-puisi Oratornya menyelipkan satu sajak menyentil kekagumannya terhadap penciptaan wanita. Dalam sebuah forum maya Friendster, fenomema kiai ini menjadi bahan perdebatan sengit. Sebagian besar secara ektrem menyebutnya tidak pantas sebagai kiai karena menjadikan Wanita sebagai objek. Bagi mereka, wanita adalah biang syahwat dan membahayakan kredibiltas iman seorang lelaki. Jadi, patut dicela perilaku nyeleneh sang kiai.

“Itu adalah wujud kalimat “ma” dalam al-Quran!” Kata novelis internasional—Penulis Novel “Ronggeng Dukuh Paru”—produksi dalam negeri A. Tohari dalam suatu diskusi kecil yang penulis hadiri di suatu Penerbitan Buku Jogja, “Artinya, ‘ma’ adalah apapun yang di alam semesta-Nya. Termasuk wanita. Pun, bagian dari hal yang dipancing-Nya sebagai penalaran akal tentang mahakarya-Nya supaya diteliti. Supaya manusia merenungi maha-Nya mencipta segala sesuatu. Termasuk, wanita. Keindahan-Nya itu ada di mana-mana. Tidak terbatas.”

Dari diskusi panjang lebar yang saling bersahutan, penulis akhirnya menemukan bahwa pemahaman tersebut tampaknya lahir dari cara pandang substansial tasawuf. Segala bentuk yang ada di alam semesta menjadi objek ketuhanan. Setiap lintasan ide, pemikiran, dan ungkapan tidak lagi dilahirkan dari rahim hawa rendah manusia, atau dari sudut pandang titik kelamin. Akan tetapi, kesatuan nalar otak kanan sebagai wadah rasa seni dan nalar otak kiri sebagai sarana pengungkapan “cita rasa” seni menjadi realitas konkret yang mudah dipahami semua orang dalam bentuk bahasa lahir melalui mulut dan keluar melalui sorakan keindahan dari suara fisik ketika berhadap-hadapan langsung dengan mahakarya-Nya.

Dalam biografi Ulama nyentrik bernama Gus Miek yang ditulis Nurul Ibad, dikisahkan bahwa suatu saat Gus Miek ditanya santrinya yang selalu ikut perjalanan dakwahnya yang dianggap sesat. Misalnya, karena sebagai putra kiai besar dia plesiran di sarang malam para pelacur, para penjudi, dan para pemabuk. Pertanyaannya, apakah sang Gus tidak terpengaruh ketika plesiran di sarang para pelacur. Jawaban Gus Miek lugas, bahwa yang tampak di mata lahirnya hanyalah darah, tulang, dan kulit.

Hujjatul Islam—Al-Ghazali—dalam Kitab al-Ajaib al-Qalb, menegaskan bahwa manusia belum mencapai taraf maqam makhrifah maka ia selalu dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan berulang karena selalu mengulang tindakan dosa, sementara manusia di taraf makhrifah maka ia sudah mampu mengatur lalu lintas dalam dirinya. Yaitu, antara hawa malaikat, binatang, syaitan, dan tuntunan ruhaniah dalam dirinya.

Jelas, mencapai maqam di atas bukan perkara mudah. Dibutuhkan kualitas pemahaman dan ilmu kokoh menuju ke sana. Cara pandang Gus Mus, Tohari, maupun Gus Miek tentu akan sangat berbeda bila disejajarkan dengan kita yang masih berjuang. Tapi yang pasti wahai nona di sebelah rumah, benar bahwa aku memuji keanggunan itu. Bahwa, kemudian keanggunan itu membuatku mengagumi-Nya melebihi-mu itu juga benar. Karena itu, berpalinglah dari hadapanku karena aku manusia biasa belaka saja. Sebab jika tidak, maka izinkan aku menjadi penglima terbaikmu setelah itu. Satu-satunya.

Sungguh, akan kutumpuk sajak hingga menyerupai candi untuk menggolkan niat baikku itu. Apa kau, berkenan? 2006 []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar