12.7.08

“lelaki”

Waktu bergerak sangat lambat, setengah jam sang waktu tergeser. Kau, masih terus berkomat-kamit. Entah, sampai kapan detik-detik akan diakhirkan sesegera mungkin. Kau, masih tenggelam dalam nadi perasaan itu.

“Masak, setiap kali dia kutanya mengenai pernikahan..” cetusmu bergulat lebih. Ceritamu ternyata masih bertambah. Semoga ini kalimat pamungkas terakhir dari bibirmu. Ini malam minggu. Ada acara PDKT khusus malam ini. Dasar, tidak paham lelaki jomblo saja!.
“dia mengelak melulu. Siapa yang tidak ragu pada keraguan coba??”

Aku mencoba merespon, ketika tanganmu tiba-tiba mengepal kuat. Aku kaget sedikit. Kurasa, kau mulai mengeluarkan demdam.
“Makane, kuputus wae! Jadi lelaki kok nggak pasti! Dia pasti senang ingin menggombaliku habis-habisan!!”

Ooo, suaramu meninggi. Lebih tinggi dua tiga not. Lihat, mukamu mengeluarkan warna memerah pelan-pelan. Luar biasa. Setelah bersorak begitu, matamu menerawang jauh. Lebih jauh dari teropong torpedo. Menurutmu, sudah dua minggu hubungan itu tidak berlangsung. Kau, mematikan HP. Juga mulai menginap di asrama kawan-kawanmu. Agar, jejakmu tak bisa dikuntit. Cepat-cepat aku memosisikan diri untuk bicara. Jangan sampai, kau bicara lagi tanpa sahutan balik dariku. Eman. Aku juga ingin tertuntut bicara. Aku ini lelaki. Kaum yang kamu protes itu.

“Oya, selama dua minggu gimana nasibnya?” kataku secepat kilat. Kau mengangkat kepala menatap gamang.
“Ah, entahlah. Aku malas mengetahui itu. Bikin jantungku ribut saja.”
“Dia masih kuliah?”
Kau menggeleng.
“Baru lulus setengah tahun lampau.”
“Oh, berarti dia sudah punya kerja rupanya.”

“Belum!” sergahmu seperti orang kaget. Bah. “dia belum kerja. Masih mencari-cari. Kudengar, dia lagi sibuk cari kerja. Katanya pula, lebih semangat dari biasanya. Pasti, pasti dia senang aku memutusnya. Dasar, semua lelaki emang begitu. Menanam perasaan, kemudian lari tanpa tanggung jawab setelah perasaan itu tumbuh. Huh!!”
Blak!!

Aku kaget. Tanganmu yang terkepal tiba-tiba jatuh ke meja, dan meja bergetar mengeluarkan suara. Hebat. Dalam hati aku berbisik, salah menganggap semua wanita itu harus lemah-lembut.

“Kau salah, nona!” kataku setelah lama terenung. Wajahmu menghadang mukaku, sorot matamu menyipit. Dengan helaan napas, kau bersedekap.
“Salah?? Apa itu karena kau lelaki?”
“Justru karena aku lelaki, maka mengetahui lebih banyak apa itu lelaki.”
“Kamu tidak perlu jadi pengacara mendadak!”
“Hehe. Yang pasti, dia setia padamu. Apa kau, tidak berniat menerimanya kembali?”
Kau terdongak. Rasanya, sebentar lagi ada yang meledak di atas kepala.

“Jangan harap! Pembelaanmu mujarab untuk wanita sepertiku!”
“Jika demikian, biarkan dia memilih wanita selainmu!”
“Enak saja!” sergahmu dengan sorot mata menebal. Sontak aku terpingkal-pingkal. Maksude, aku tertawa sangat gitu.
“Lhoh, gimana sih??”

“Lhah, iyya. Maksudku, jika saja dia mau sedikit saja menseriusiku..”
“Dia sangat serius padamu!”

Sorot matamu yang menajam, pelan-pelan mengendor. Aku melihat kasih sayang yang tak tersapih di sana. Di lorong-lorong matamu yang mungil. Tiba-tiba, kau yang mulanya bersidekap gagah, duduk dan terisak.

“Sungguh, mas! Aku sangat mencintainya. Tapi, aku takut dia selingkuh. Makanya, aku takut bersamanya lagi. Aku takut, tiba-tiba melihatnya bersama wanita selainku. Setiap kali dia mengelak menjawab, keraguan itu menguak seperti ombak.”
“Bukannya dia mengelak Non. Jadi lelaki itu, berat.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Benar, dia selalu mengelak. Namun, itu tanda perasaan malu kok. Setiap lelaki, akan menyimpan jawaban paling krusial, dan diam-diam berusaha memenuhinya sebagai persembahan tertinggi. Apa kau, sudah paham?”

Sorot matamu terangkat ke lubang di mataku. Dan, menggeleng. Aku tertawa nyengir.
“Maksudku, bukan dia tidak memberi kepastian nona. Yang tidak pasti itu adalah, kehidupan. Kehidupan yang akan dijalaninya nanti. Menikah itu perkara gampang, bagimu. Tapi tidak bagi seorang lelaki. Yang dipikirkannya bukan selingkuh, tapi memastikanmu bahagia lahiriah-batiniah jika benar-benar bersamamu secara resmi nantinya.”
“Berarti..dia setia? Padaku??”
Aku mengangguk. Mantap. Matamu berbinar. Aku melihat bara api meliuk kemudian bubar di situ.

“Makanya, jaga hatimu. Sebab, semangatnya mencari kerja itu karenamu belaka nona!”
“Be..be…nar..kah???”

Suaramu terbata-bata. Tangismu terisak. Aku bertanya pada sisi lain dalam hatiku, kapan akan ada wanita yang menangis demimu hei lelaki? []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar