9.2.08

"senja retorik"


“senja retorik”

Semilir angin menusuk tulang sumsum. Sudah sekian lama tidak bersua denganmu, hei senja. Kemungkinan aku terlalu melekatkanmu pada sebidang tanah yang datar dan tidak bergerak diterpa angin.

Dulu, dari tanahmu itu aku berdiri setegak pohon kelapa. Kini, aku kembali merunduk dan terduduk menunggu. Menunggu apakah rasa “badai” masih seangkuh dahulu itu. Ataukah ia kini ia lebih angkuh menerpa.

Dari badai aku mengerti, sesungguhnya badai tidak sesombong itu membusungkan dada dan menerbangkan segala.

“Kadang-kadang angin semilir justru lebih membahayakan.” Tuturnya kalem. Ya, memang terkadang aku keheranan mengenai kekaleman badai. Mungkin badai benar, angin semilir lebih membahayakan justru karena keasyikan kita menikmati buaiannya.

Lamat-lamat aku teringat mengenai suatu kisah lama. Kemudian perlahan seraut wajah timbul berurat-berakar di kumpulan puing yang barusan dikunjungi badai.

“Sesuatu tidak terjadi, terkadang bukan sebab kesalahan manusia.” Aku mendengar sebuah suara berdenging di telinga. Entah suara siapa. Kemungkinan suara batinku sendiri. Bisa jadi ia adalah suara malaikat Jibril. Atau terserahlah bagaimana ia didefinisikan.
“Lalu apa?” sergahku tertarik.
“Kadang-kadang, ia terjadi karena langkah alam dengan susunan peristiwa di dalamnya. Sering kali ia bukan karena keangkuhan peristiwa, akan tetapi karena kadang peristiwa sedang mengatur sesuatu menjadi semakin teratur keteraturannya.”

Aku terdongak. Terbersit suatu pertanyaan mengganjal, namun tak terkeluarkan.


DI ANTARA Senja yang turun, sepoi angin yang anggun semburat memerah bagai kumpulan api unggun, adakalanya diselingi hujan rintik-rintik. Sekian lama menunggu, malam masih belum juga tiba menetap. Sebatang rokok dengan asap menebal membubung bagai lintasan anak panah.

Beberapa saat, sesuatu hinggap dan menetap

;wajahmu
itu wajahmu
Ya. Itu memang wajahmu

Saat itulah, keistimewaan senja terlihat
KAU…

Dan karena sebab itu, senja menjadi istimewa.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar