3.2.08

PARADOKS PARA PARADOKSALITAS


JELAGA PARADOKSALITAS

…hei, jelek!
…lam kenal?
..wualah tamu baru to?
…comen mam
…hualah, kamu tho?


Barisan di atas berbaris-baris rapi menurun ke bawah. Sebenarnya, jarak itu tidaklah sejauh yang dibayangkan. Kita bisa saja ngobrol lepas saling bertatap muka. Namun begitu, ada yang lebih “mengesan” manakala kita berjarak, begitu alasan seseorang ketika ditanya apa alasannya.

Terkadang jarak yang terlalu rapat memberatkan kekangenan, sehingga butuh meletakkan jarak menjadi berjarak. Demikian alasan yang lain. Katanya, dari jarak yang berjarak itulah tertata keindahan, kerinduan, kekangenan, dan keharuan yang timbul-tenggelamnya menghauskan dahaga.

[…tamam, ojo ngenet wae!]

Nah, barisan ini tentu mengenalkan betapa narsisnya situasi jika selalu meminta melupakan jarak yang seharusnya dihapus saja. Patutnya, lupakan jarak yang berjarak; marilah bersua demi suatu keharusan jarak yang tanpa jarak. Apakah selalu ada jarak yang berjarak? Di kemudian hari, memerlukan jarak yang tanpa jarak?

Adakalanya kita perlu menyisihkan sejarah tidak saling bertemu, tulis seseorang berikutnya dalam sebuah e-mail. Mungkin karena itulah, Tuhan menyediakan surga, sekaligus neraka di sisi lainnya. Mungkin sebab itulah, surga dan neraka kentara serupa mitos yang dipercayai ketidakmitosannya? Gugahnya sekali lagi.

Terkadang pula kabarnya, jarak yang berjarak itu pun perlu pula ditutup kemudian dijalani dengan pertemuan yang tanpa jarak. Makanya, ketika jarak yang berjarak mulai terabadikan, muncul kebosanan sangat tinggi. Dengan demikian, seseorang merasa penting segera mengutarakan sesuatu lebih keras menghauskan keharuan?

Oleh karenanya, Tuhan memirmankan bahwa kehidupan tidaklah lebih besar dari suatu pentas teater? Dan di sana, segala jenis paradoksal menyatu? Kemudian diperjelas dengan pelemparan Adam-Hawa ke bumi? Apakah karena kesempurnaannya-lah, justru akhirat itu sama sekali tidak ternikmat? Sehingga membutuhkan ketidaksempurnaan di satu sisi?

Mungkin. Mungkin dunia itulah neraka itu berada? Akhirat yang tanpa hukum, justru diperjelas dengan keteraturan hukum yang diprakarsai di dunia dengan hukum sebab dan hukum akibat? Apakah hanya dengan ketidaksempurnaan dunia-lah, maka kehidupan yang serba sempurna di akhirat itu menjadi lebih berasa? Apakah demikian?

Mm.. tentu inilah paradoks itulah. Ah, lupakan sajah. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar