19.2.08

Lelaki Muda Berkelana Bertanya tentang Kiai


Lelaki Muda Berkelana Bertanya tentang Kiai
Mencari jawaban yang tidak sependek jawabannya
[I]
APAKAH ITU KIAI? Pertanyaan besar, namun jawabannya sangat mungil dijawab. Tapi kaki anak muda itu tetap tidak bisa diam dengan jawaban mungil semacam itu. Sejak telinganya mampu mendengarkan suara-suara yang bisa dimengerti—karena menurutnya banyak suara-suara terdengar, tapi tak menyimpan pengertian—sudah lapuk pendengarannya mendengar apa itu yang disebut kiai.
”Kiai itu pemimpin umat nak!” kata seorang guru suatu ketika. ”Banyak ilmunya.”

Jawaban pendek sang guru justru membuatnya punya pertanyaan baru yang makin tidak pendek. Ia pun tergelitik bertanya lagi. Sebab, orang yang di depannya pun punya banyak ilmu. Untung sang guru tidak keburu pergi dari kantor sekolah. Dia masih sibuk menyorongkan jilatan api dari batangan kayu kecil ke batangan rokok di bibirnya. Beberapa kali dia membidikkan api yang beberapa kali padam diterpa angin.

”Guru kan juga banyak ilmunya? Apa guru juga kiai?” tanyanya. Sang guru mengernyitkan dahi, kemudian kembali mengambil batangan kayu dan hendak membidikkan jilatan api ke batangan rokoknya. Tapi tidak jadi. Dia menatap dengan mata menyipit sebelah. Lucu terlihat. Mata sang guru yang menyipit sebelah, mengingatkannya ketika suatu waktu pernah di pinggir jalan menggoda seorang cewek seksi dengan mata begitu.
”Beda nak,” sela sang guru. Dia kembali membidikkan jilatan api, berhasil. Rokok itu pun menampakkan bara kecil di ujungnya. ”Kiai itu lebih banyak ilmu agamanya.”
”Berarti guru lebih sedikit ilmu agamanya?” sang guru matanya membeliak.
“Bukan begitu maksudnya. Selain lebih banyak ilmu agama, kiai juga pemimpin umat. Itu bedanya!”
“Berarti guru bukan...”
“Bukan!” sang guru langsung memotong dengan suara keras. Kini dia mematikan bara api di rokoknya. “Pokoknya, bu...kan! Bukan itu maksudnya!”
Sang guru membalikkan badan, kemudian menggeret pintu kantor sekolah hingga tertutup sempurna. Dia seperti sangat tergesa-gesa.
“Bapak lagi sibuk,” cetusnya cepat sambil kembali membidikkan jilatan api. Angin yang tidak amat-amat berhembus membuat bara di rokok langsung menyala. “Nah, bapak ada urusan! Bapak jawab kapan-kapan ya?”
Sang guru tanpa basa-basi segera berlalu.

[II]

SUDAH BELAS tahun berlalu. Tetapi pertanyaan tentang apa itu kiai masih saja menggelitik-gelitik. Belum ada jawaban memuaskan. Dia pernah putus asa, kemudian beralih tidak lagi memertanyakannya. Semua jawaban sama. Jika ada yang tidak sama, paling-paling sisa satu-dua yang tetap sama. Kiai adalah seseorang yang pintar dan banyak ilmu agama. Makanya, kalau ada orang ilmu agamanya dalam, katanya, dia pastilah kiai. Oya, dia masih ingat masih ada tambahan satu lagi. Katanya lagi, seseorang baru boleh disebut kiai jika dia juga banyak muridnya. Punya pesantren. Minimal, punya murid-murid yang diajarnya di mushala.

“Lebih baik kamu nyantri aja di pesantren biar tahu!” seloroh seorang tukang becak suatu ketika. Celakanya, jawaban ini lagi-lagi menimbulkan pertanyaan lain.
“Nyantri?” tanyanya. Si tukang becak mantap mengangguk.
“Apa itu nyantri?” tanyanya ulang. Si tukang bencak terdiam. Mulunya setengah terbuka.
“Kamu tidak tahu apa itu nyantri??”
“Makanya saya tanya kang!” si tukang becak mengelus-elus dada.
“Ya, ya.., nyantri, ya nyantri-lah!”
“Lha, nyantri itu lo pak...”
“Maksudnya?” tegas si tukang becak dengan kepala tersorong agak ke depan.
“Maksudnya? Ya, yang saya tanya itu maksudnya...”
“Lha iya, maksud saya, maksudnya gimana nak?”
“Maksudnya? Maksudnya yang mana pak?”

Si Tukang becak membuang napas sambil turun dari becak. Dia melangkah ke pedal becak di belakang tanpa banyak bicara. Beberapa saat, dia kembali ke depan.
“Sampeyan tanya apa tadi?” tegasnya.
“Lho, bapak sudah tahu jawabannya?” si tukang becak mengangguk. “Lalu gimana jawabannya?”
Si tukang becak tidak segera menjawab, tangan kirinya yang disembunyikan di punggung ditarik ke depan. Kedua matanya melotot tajam tersorot.
“Kalau saya jawab dengan ini?!” cetusnya dengan suara galak, sementara tangan kirinya mengangkaang ke udara sebilah golok. Karena ketakutan bakal disambar golok si tukang becak, tanpa ba-bi-bu lelaki muda segera melompat ke belakang dan lari sekencang-kencangnya dengan kekencangan yang sangat kencang kekencangannya.

[III]
HINGGA MASUK di bangku kuliah, dan bahkan sampai semester sebelas, pertanyaan tentang apa itu kiai masih saja samar-samar. Bahkan, sekarang tertambah satu pertanyaan lagi. Ya, kiai itu apa? Dan apa itu nyantri? Sebenarnya sejak dikangkangi sebilah golok di pinggir jalan sama seorang tukang becak dia sudah kapok bertanya-tanya. Akan tetapi, salah satu isi materi matakuliah di kampus punya jawaban lain. Isinya sebagai berikut;
Bertanya itu sendiri bentuk dan ciri orang terdidik
Ia tidak akan sungkan bertanya hingga sampai menemukan kebenaran.
Sebab hanya orang bodoh yang
meninggalkan pertanyaan tak tertanyakan
membuang jawaban yang tak terjawab


Nah, materi kuliah tersebut membuatnya sungguh-sungguh kalut. Mulailah dia kembali mengembara. Sialnya, setiap kali ada orang yang mau ditanya, dia tiba-tiba merasa enggan bertanya dan menanyakannya. Masalahnya, sebelum jawaban pertanyaan tentang apa itu kiai dan apa itu nyantri, ada bahan lain yang sangat mengganggu benak dan perasaannya. Menurutnya, semua akan terjawab jika ia sendiri mengetahui alasan kenapa dia selama ini menyimpan pertanyaan? Dan kemudian kenapa jika bertanya, maka orang harus memiliki jawaban? Sesungguhnya, kenapa orang-orang—temasuk dirinya—selalu bertanya-tanya? Kenapa pula, setiap jawaban harus juga terjawab jawabannya?

KARENA SAKING bingungnya, dia pun segera mencari-cari orang yang berilmu, berpengetahuan, dan menjadi pemimpin umat, sekaligus juga nyantri di pesantren. Pada hari ke-313, akhirnya dia menemukan sosok yang dimaksud.

“Benarkah, Anda pemimpin umat, banyak ilmu agamanya, dan juga nyantri?” katanya beruntun. Bertemu dengan orang dicari-cari membuatnya terobses dan sangat terburu-buru segera pengen tahu.
“Katanya orang-orang sih seperti itu.”
“Lha, menurut Anda sendiri?”
“Hehe, saya? Ya, saya adalah saya! Dan bukan orang lain.”
“Adu, saya sangat serius nih pak! Jangan malah nambah pertanyaan yang harus ditanyakan sehingga membuat saya bertanya-tanya yang nanti justru tidak tertanyakan!”

Sosok tua terkekeh, terbahak-bahak, dan kemudian tertawa. Setelah tawanya mereda, lelaki tua memintanya duduk. Seseorang berumur belasan keluar dari tirai dengan membawa nampan dua gelas, dan tiga toples berisi camilan. Setelah keduanya selesai minum-minum, pak tua menyuruhnya berbicara.
“Katakan saja permasalahanmu, anak muda!” katanya santai.
“Apakah bapak akan menjawabnya?” pak tua terdiam, dan terbahak-bahak keras dan panjang.
“Justru kalau saya menjawab, kau akan selalu bertanya-tanya.”
“Tapi kalau bapak tidak menjawab, saya akan terus bertanya-tanya. Saya sudah putus asa lho..”
“Nah, itu dia! Karena kamu ingin bertanya, makanya kamu harus mencari jawaban!”
Lagi-lagi menjadi membingungkan! Batin anak muda ini mulai sebal dan dongkol. Saking sebalnya, dia pun segera berdiri.
“Hoho, duduk dulu nak!” sergah pak tua. Anak muda ini kembali duduk denagn tidak tenang.” Katakan pertanyaanmu!”

Seketika wajah anak muda menjadi sangat terang. Dia berkobar-kobar dan segera menceritakan pengembaraan panjangnya demi mencari tahu apa itu kiai. Sayangnya, setiap orang bukannya memberi jawaban, malah menambah pertanyaan baru yang membuat kebingungan menjadi bingung. Selama bercerita, pak tua sama sekali tidak bersuara. Dia diam saja menyimak.

“Nah, apa bapak tahu jawabannya?”
Pak tua terkekeh. Dia menyorongkan kedua tangan memersilakan minum dulu sebelum dijawab.
“Gampang saja jawaban itu!” cetus pak tua. Anak muda mendongak tidak percaya. Pak tua menghela napas.
“Kiai itu kan hanya sebuah nama.”
“Sebuah nama?” pak tua mengangguk. “Hanya itukah?”
“Lho, kalau bukan sebuah nama, lalu apa?” tanya pak tua balik. Anak muda ini manggut-manggut. Kini hatinya sangat lega. Lega sekali. Ia tidak menyangka, jawabannya sangat mudah sekali. Bahkan, bisa-bisanya segampang itu. Tanpa menunggu waktu, saking senang dan gembira, dia spontan mencium tangan pak tua dengan penuh takjub dan bangga.
“Nah, sekarang sebaiknya kamu nyantri saja di sini nak!” kata pak tua. Anak muda tertegun. Ia lupa bahwa masih tersisas satu pertanyaan belum disampaikan.
“Nyantri? Apa itu nyantri pak?” tanyanya kegirangan. Ia yakin, pak tua pun pasti tahu jawabannya.
“Nyantri itu adalah setiap orang yang bertanya-tanya, dan mencari-cari jawaban. Dan, setelah itu di tinggal di rumah ini.”
Anak muda ini termangu.
“Nah, karena kamu termasuk orang yang bertanya-tanya, dan mencari-cari jawaban, dan akhirnya sampai di rumah ini untuk tinggal, maka orang-orang memanggilmu dengan, Nyan-Tri!”
“Saya tidak paham pak tua..”
“Ha..ha!! Kalau kamu paham, bukan santri namanya. Tapi kiai!”
“Tapi kiai?”
“Kiai itu, orang-orang yang sudah tak bertanya-tanya dan mencari-cari jawaban. Sementara orang-orang yang bertanya-tanya dan mencari jawaban dan kemudian memilih tinggal di rumah ini, disebut nyantri!”
“Artinya, karena saya masih bertanya-tanya dan mencari-cari jawaban dan tinggal di sini itulah, maka saya pun termasuk disebut nyantri?”

Pak tua langsung mengangguk. Selama lima belas tahun lamanya anak muda ini tinggal di rumah itu. Tidak ada kabar apapun setelah itu. Konon kabarnya, anak muda ini akan kembali hadir menemui para pembaca setelah cita-cita besarnya tercapai. Jadi kiai. Dia berkeyakinan, setelah menjadi kiai, maka dengan sendirinya pembaca menjadi mengerti apa itu bacaan dan kenapa harus membaca. Setelah itu pembaca pastilah bingung apa maksud kata-kata ini! Tentu, dia akan memiliki pertanyaan dan terganggu bila tidak mencari-cari jawaban. Saat itulah, dia pasti akan berkata lantang; jadilah santri! Biar kau jadi kiai. Dengan begitu, maka kau sudah tidak membutuhkan pertanyaan dan jawaban.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar