29.2.08

”di balik kota”


memasuki ruang kota lengang
di sebuah negeri yang hilang
pernah kau ke sana?

Matahari begitu menukik tinggi di atas kepala. Gerbang kota tujuan sudah di depan mata. Dari perawakan pintu marmer yang kusam, sangat jelas kota ini sudah begitu lama ditinggalkan para penghuni. Tembok gerbang yang terbuat dari kayu, justru membuat pintu gerbang ini terasa mengganjal dalam hati. Ketika mulai melewati pintu kemudian beranjak ke dalam, suasana emperan kota makin mengesankan lamanya kota tidak berpenghuni. Bangunan-bangunan gedung meski masih terlihat baru, namun lumeran debu di tembok, dan daun-daun kering yang koyak alami di beberapa lokasi. Sepertinya, kota ini belum begitu lama ditinggalkan. Ke tengah-tengah kota, tanah-tanah kota tampak gersang dan mengepulkan serabut-serabut debu ke udara, padahal angin tidak seberapa kencang. Terik panas menggelegakkan rasa dahaga hingga ke puncak kepala. Tambah ke dalam, suasana senyap menggelora ke seantero perasaan.

Konon, kota senyap ini dulunya pernah terbangun dan dibangun bangunan-bangunan megah. Terbukti, di sana-sini terpampang sisa-sisa puing dari reruntuhan gedung besar, juga tampak kokoh di sisi-sisinya meski tinggal reruntuhan. Entah ada peristiwa apa hingga kota hebat ini mengalami keruntuhannya. Dari berbagai ornamen yang masih tersisa, kota ini termasuk kota artistik, elegan, dan eksotis.

Keluar dari gerbang kota, suasana seketika berganti. Berdiri sepuluh meter dari pintu gerbang dan kemudian mengamati dari kejauhan, suasananya sungguh berbeda dengan alam di luar. Kota ini bagaikan kota mati yang asing. Tergambar suasana aneh, antara kota dan sekelilingnya seperti tidak saling berhubungan dengan kota di sebelahnya. Bayangkan, kota-kota di sebelahnya begitu ranum dengan aroma pegunungan khas, atau dibandingkan dengan kota sebelahnya lagi yang bernuansa modern, kota ini justru asing, gersang, dan tandus. Manakala memasuki ruang dalam, sisa-sisa bangunan masih menguratkan guratan keelokan kota.

”Memang, semenjak ditinggalkan sang ratu,” tiba-tiba saja ada seseorang bersuara. Entah, sudah sejak kapan berdiri sosok lelaki tua di sebelah kiri. Kepulan asap rokok klobot di bibirnya tersepul mengudara, ”kota ini tidak terurus.hingga jadi puing.”
”Kenapa sang ratu meninggalkan kota?”
Pak tua ini terkekeh. Walaupun belum pernah bertemu dan kedatangannya sangat tiba-tiba, ada keakraban timbul sangat rapat.
”Kadang ada alasan-alasan tertentu yang tidak bisa dipahami. Begitu pula, sang ratu kota itu.”
”Apa sang ratu pernah mengutarakan alasannya?” dia langsung mengangguk.
”Ya, pernah.” sahutnya. Dia maju dua tiga langkah ke depan sambil mengamati sisa-sisa kota dari luar gerbang. Ada rasa penasaran ingin mengetahui alasan sebenarnya dari sang ratu itu. Namun, pak tua masih tampak sibuk dengan tatapan matanya yang tertatap jauh, hingga seakan menembus keseluruhan isi kota. Kemudian dia membalikkan badan dengan senyum lebar.
”Pak tua masih ingat alasan itu?” dia tidak segera menjawab. Tetapi langkahnya justru bergerak menjauhi kota. Dia baru menghentikan langkah, saat raut kota sudah tidak tertatap oleh sejauh mata menatapkan tatapan terjauhnya. Pak tua menjejak masuk ke sebuah gubuk yang berdiri tepat di sisi persimpangan jalan desa. Kami duduk di kursi bambu panjang di emperan gubuk. Pak tua mengepulkan asap rokok ke udara.
”Adakalanya sebuah pertanyaan tidak memerlukan jawaban, anak muda. Karena pertanyaan adalah proses bahwa sesuatu sedang dilangsungkan. Dan,.jawaban adalah hasil-hasil dari proses yang telah selesai dilangsungkan. Karenanya, biarkan pertanyaan itu berlangsung bersama proses. Pada saat proses terselesaikan, jawaban ada dengan sendirinya.”
”Demikian pula kota itu. Kota yang megah, yang dihasilkan adalah puing. Semuanya, karena di saat proses sedang berlangsung, sekaligus justru lebih mementingkan terjawabnya pertanyaan, dan bukannya meneruskan pertanyaan hingga menjadi jawaban. Jawaban tak perlu dicari. Ia selalu ada. Antara pertanyaan dan jawaban, selalu memiliki ruang di depan dan di belakang. Jawaban dan pertanyaan tidak bisa dipercepat, ataupun diperlambat.”

Lelaki tua menghentikan kalimatnya, raut-raut di wajahnya mengurat seperti tautan tali jerami. Kembali dia menghisap rokok klobot, dan mengepulkan asapnya ke udara lepas. Kota yang penuh pertanyaan menggantung, dan sesosok lelaki tua yang meletakkan rangkuman kalimat, juga tidak merangkum pengertian.

”Tidak perlu risau anak muda,” cetusnya. ”Awalnya, manusia bersikeras membangun kota, seperti kota itu. Mereka sangat yakin, kota seperti itulah yang memang dibutuhkan. Pada detik tertentu dari penentuan, ketika proyek kota hampir rampung, manusia tersadar. Bukan kota yang dinginkannya.”
Pak tua mengangkat telunjuk dan diarahkan ke tanah menjauhi gerbang kota.
”Tapi gubuk mungil ini. Tempat saat ini kita berbincang. Awalnya, manusia begitu menggebu dengan pembangunan kota, sambil lalu mengubur desa. Namun kemudian, kota ditinggalkan. Mereka pun memanggil desa. Di situ, mereka menetap dan tak pergi-pergi. Karena itu, akan kau lihat, rampung tidak rampungnya kota bukanlah tujuan. Kota hanyalah nama dari tujuan meniru langit, dan gubuk mungil di desa untuk menamai tujuan tentang bumi. Ya, bumi yang membumi. Di situlah, manusia menyadari tujuan itu bukan menjadi langit atau pun menjadi bumi. Karena langit dan bumi, bukan tujuan, melainkan tempat berpijak, dan tempat bernaung.”
“Bukankah ada juga kota yang selesai pak? Bahkan, seiring bertambahnya hari, mereka pun terus tanpa henti membangun menjadi lebih perkasa?”
“Hehe, itu karena mereka gagal menemukan tujuan pembuatan. Makanya, walau selesai, tetap gelisah. Mereka yakin bukan kota yang dimaui. Akan kau lihat, sedemikian hebat kemegahannya, kota itupun mereka hancurkan. Mereka kembali ke desa. Di saat itulah, mereka paham betul yang sedang ingin terengkuh.”

Ada perasaan kurang setuju dengan pak tua. Bagaimana pun, sebuah kota dibangun adalah bagian dari cita-cita tentang tumbuhnya akar ketika ke luar desa. Mereka akhirnya mengerti, desa yang mengakar telah mengakarkan akar-akar yang akan diakarkan. Tentu, saat di luar desa, mereka menemukan akarnya sendiri dan menginginkan akar dari dirinya sendiri tumbuh melebihi desa. Setidaknya, akar di desa bukan ditinggalkan. Setiap manusia akan menemukan akarnya bukan? Ya, akar desanya tersendiri yang tentu saja tidak sama dengan akar yang pernah menumbuhkannya menjadi akar.
“Justru itulah anak muda!” pak tua berkata tegas. Lamunan seketika buyar. Aneh, dia sepertinya memahami betul seluk beluk tataan di benak. “Ketika akar pribadi ditemukan, mereka meninggalkan akar yang mengakarkan. Makanya, di saat kota hampir rampung, mereka tersadar, bukan akar seperti itu yang dimaui. Sebab, tujuan utamanya adalah mengakarkan akar yang sudah terakar. Dan bukan menumbuhkan akar yang tidak ada akarnya.”
“Lalu, gimana tentang kota rampung dan masih terus dirampungkan?”
“Akhirnya dihancurkan sendiri bukan? Sebab, tetap saja mereka tidak bisa menjauhi akar yang mengakarkan. Selalu ada kerinduan kembali pada akar yang mengakarkan.”
“Tetapi kenapa mesti kembali pada akar yang mengakarkan? Bukankah, kota jadi mubazir?”
Pak tua tiba-tiba tertawa terbahak. Bahunya berguncang.
“Kembali ke desa bukan berarti ditinggalkan. Akan tetapi, kembali untuk melanjutkan bangunan. Dari sana, pembangunan terulang. Dan mungkin, penyelesaiannya menjadi beda. Sementara yang masih bersikeras di kota, kota mungkin selesai terbangun namun hanya bertahun tahan. Setelah itu, hancur.”
“Kerampungan hanya soal waktu. Tidak tergantung seberapa tekad dirampungkan. Kau perlu memasuki kota, sekaligus menelusuri akar yang terakar. Dengan begitu, seseorang tidak perlu kembali sebelum menjadi keabadian. Sesuatu yang tidak rampung, namun berangkat dari akatnya, maka perampungan hanya soal waktu. Ada kalanya, sesuatu tidak rampung bukan soal kemampuan usaha. Tetapi, soal pengakaran alam yang sedang berlangsung tiap detak demi pengakaran. Adakalanya, hal rampung karena kemampuan kita. Meski, tidak mengakar. Namun, kerampungannya berlangsung seukuran kau menarik napas. Kemudian, sisanya tertelan. Hilang. Selamanya.”
“Selamanya?” pak tua mengangguk, kemudian mengangkat pantatnya dari kursi bambu. Tanpa bahasa dan tolehan, pak tua pergi begitu saja. sosok tuanya seperti mengendap, kemudian mendekati gerbang kota. Setelah itu, sosoknya mengecil di sudut tanah-tanah kota yang berdebu.

Samar-samar, di antara debu-debu kota yang jauh, dari sisi tengah pintu gerbang kota yang tidak tertutup, angin berhembus begitu lambat. Debu naik ke atas, pula dengan lambatnya. Debu-debu menyatu dengan udara, meliuk kemudian melingkar-lingkar. Aneh, debu itu tiba-tiba membentuk suatu bentuk yang membentuk bentukan sebuah bentuk. Bentuk apakah itu? Di depan sebuah layar, situasi tidak jauh berbeda. Sebuah dahi mengerut, kemudian menekuk. Terdengar helaan napas tertahan. Tidak selang lama, sepasang mata menyipit.

Suatu barisan pertanyaan muncul bertanya-tanya, hati mulai meliuk-melingkar tentang kota, tentang desa? Dan tiba-tiba menginginkan keduanya? Apa masih meyakini langit dan bumi adalah tujuan? Itu sebabnya, langit dan bumi gagal menjadi tempat berpijak dan bernaung? Di saat bersamaan, padahal langit dan bumi sedang terpijak, dan ternaung di dalamnya. Apa mulai kebingungan? Itu karena selama ini menjadikan kebingungan menjadi tempat berpijak dan bernaung?[] 29 Februari 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar