30.1.08

SESUATU YANG TIDAK TERSESUATUkan

SESUATU YANG TIDAK TERSESUATU

Aku sengaja datang dari ruang-ruang yang tak terlihat. dan akan setia menggodamu di setiap nadi. Darahmu dan urat-uratmu pemikiranmu. Aku datang bagaikan desir sepoi kala senja, berdiam di benakmu kemudian berubah mesiu yang siap meledak. Meledakkan dinamit kebodohanmu. Mencerahkan raunganmu yang tidak bergigi itu.

Aku tersenyum kecut mendengar bidikan suara-suara itu. Lihatlah dia datang seperti lahar dari Gunung Merapi begitu cepatnya. Saking cepatnya sehingga melahap rasa panik berubah seketika rasa terpana. Banjir bandang kemudian tidak terasa menenggelamkan rasa ciut nyali.

Akulah pemikiranmu! Desaknya mendesak-desak. Ada rasa terpaut segera mendekapnya hangat-hangat.

Pikiranmu itulah kekuatan yang sebenarnya! Camkan itu!
Apakah dengan pikiran segala sesuatu menjadi sesuatu? Tanyaku gamang sekaligus lega.
Segala sesuatu menjadi ada karena kamu memikirkan sesuatu
Bagaimana jika aku tidak berpikir?
Maka segala sesuatu menjadi tidak ada! Sesuatu tidak bersesuatu lagi!

***
Apakah benar sesuatu tidak lagi bersesuatu jika kita tidak berpikir? Sedemikian jauh berderak bersesuatu dengan sesuatu dan pikiran mensesuatukannya tampak seperti sesuatu yang punya sesuatu. Seribu pertanyaan terganjal kemudian mengganjal terpenggal-penggal tidak bersesuatu. Sesuatu semakin bersesuatu meluberkan sesuatu yang lain dan justru menampakkan ketidaksesuatuannya.

Adakah jawaban memang adalah sesuatu kemudian menjadikannya sesuatu yang menyesuatu? Makanya segala sesuatu menjadi beragama sesuatu bahkan segala sesuatu mungkin pada akhirnya sesuatu adalah sesuatu yang sejatinya tidak bersesuatu? Hakikat sesuatu adalah sesuatu yang tidak sesuatu?
Dari suatu sudut sesuatu tiba-tiba kemudian tiba begitu saja sesuatu dari sana. Sebuah sesuatu terkuak lebar dan terbaca;

Bacalah sesuatu
Maka kau akan mengerti adanya sesuatu
Di puncaknya kau akan mengetahui
Di atas segala sesuatu
Adalah sesuatu yang tidak sesuatu

Di sana,
Kumpulan sesuatu tersesuatukan
Bacalah sesuatu
Tetapi, tidak perlu kau susah payah
Mengartikan yang tidak tersesuatu
Tahukah kau apa itu sesuatu?
Dan apa itu yang tidak tersesuatukan?
***
Di pinggiran langit yang terlihat kusam, bintang-bintang yang tidak kunjung usang dan lekang; ada tepi-tepi tak pernah tersentuh dan terbaca. Kusamnya pinggiran langit justru menambah kemurnian keelokannya.

Makanya itu aku mendamba pujangga, katamu suatu ketika. Yang membinarkan jelaganya di tepi-tepi. Mengerlipkan bintang-gemintangnya di sisi setiap saat. Telaahmu lagi.

Kubisikkan untukmu; aku ingin menjadi pujanggamu. Aku ingin sengaja datang dari ruang-ruang tak terlihat. dan akan setia menggodamu di setiap nadi. darahmu dan menjadikan urat-uratmu menjadi pemikiranku. Aku ingin datang bagaikan desir sepoi kala senja, berdiam di benakmu kemudian berubah mesiu yang siap meledak. Meledakkan dinamit harapanmu menjadi terbentuk. Aku ingin mencerahkan raunganmu menjadi bergigi.

Serupa gaung Descartes tentang pikiran, maka karena pikiranmu-lah maka pikiranku menjadi ada dan terpikirkan. Masalahnya, ketika terjadinya sesuatu oleh Sang Tak Tersesuatukan, apakah “Sang” itu pun membidikkan sesuatu dalam sesuatumu? Ah, nyatanya segala sesuatu serba terbalik.

Benar bahwa “Sang” telah membidikkan sesuatu dalam “ruang sesuatuku” itu. Hanya saja, bahwa “Sang” tidak membidikkan sesuatu dalam “ruang sesuatumu” itu juga benar adanya. Seiring dengan itu, hadir sesuatu di antara kita dan menjadi dinding sesuatu tak tertembus. Makanya, jadilah sesuatu itu pun tidak bersesuatu. Karena kemungkinan segala sesuatu memiliki segala sesuatunya tersendiri. Masing-masing. Dengan demikian, jadilah kita sesuatu yang masing-masing. Karena masing-masing, kita serba sendiri-sendiri. Dan karena itu, kita tersendirikan sendiri-sendiri? Dan sebab itu pulalah, segala bahasa menjadi tak berbahasa? Ah, ingin membuang bahasaku. Setelah itu menjadi bahasamu.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar