23.1.08

THE LIGHT MUDDLE OF

THE LIGHT MUDDLE OF

Malam itu gelap. Banyak benda tak terlihat pancaindera. Jika menerobos maka tertusuk duri sebesar jempol kaki; ular berbisa. Mungkin pula, akan terbirit-birit kala tiba-tiba di atas pepohonan bergelayut manja hantu pocongan.
”Tapi itulah hidup anak muda!” terdengar sesuara bersuara. ”Maka nikmatilah, dan hayatilah!”
”He, siapa kau?” dia tidak merespons.
”Hidup terbentuk pada dua ruang paradoksal. Kadang terang. Kadang gelap. Makanya, kemudian membentuk apa yang kusebut medium simucalra.”
”Simulacra?”

Lagi-lagi dia tidak merespons. Beberapa saat terdengar suara berisik di atas pohon. O, God! Ternyata sesuara yang bersuara itu sedang nangkring di atas pohon rupanya. Lihat, dia sedang asyik mengunyah singkong bakar dengan lahapnya. Di sebelahnya, juga masih ada satu orang lagi. Apa itu hantu? Tapi, masak ada hantu doyan singkong bakar? Nah, lihat salah seorang sekarang menggoyang ranting, kemudian turun menjejak tanah di sisiku. Aneh.
“Tidak selalu demikian kok anakmuda! Mungkin benar yang dibilang dia barusan bahwa dunia itu paradoksal dan membingungkan.”
“Siapa kau?” dia terkekeh.
“Yang pasti, belilah bukuku dan bacalah konsep amorfatiku.”
Konsep amorfati?
“Huh, masak kau belum mengenalnya?” aku menggeleng.
“Dasar anak bodoh!” katanya membentak. “Lalu, buat apa aku susah-susah ngobrol denganmu? Menyebalkan!”
“Sudah, dasar anakmuda sekarang emang nggak pernah baca buku!” sahut satunya yang masih di atas pohon ngotot.
“Benar, marilah kita pergi. Rugi besar-besaran bertemu denganmu anakmuda!”
“Benar!Buang waktu saja!”
“Tapi siapa kau? Siapa kalian?” dia tidak menjawab, malah melompat lagi ke cabang-cabang pepohonan kemudian hilang begitu saja. Apakah mereka hantu? Tapi mungkin, kehidupan memang serupa hantu. Kita tidak pernah tahu, ia nyata atau tidak. Tapi, mata konon bisa menyaksikan, meski konon pula hanya mata manusia tertentu yang mampu menyaksikan.

Mata itu katanya ada dua. Pertama, mata lahir. Kedua, matabatin. Al-Ghazali menyatakan mata lahir seringkali menipu, makanya banyak ulama sering-sering menyangka punya matabatin makrifah. Padahal, sesungguhnya dia sedang tertipu. Kata dia, itu kadang bukan matabatin tapi matanafsu.

Nah, lain lagi menurut Freud. Konon kabarnya, dia pernah menyisakan wasiat tertentu. Isinya, manusia terbagi menjadi dua mata. Yakni, matasadar, dan matabawah sadar. Berbeda dengan al-Ghazali, matasadar inilah yang paling handal bagi Freud. Sementara matabawah sadar jika terbuka, maka seseorang bisa bertingkah polah. Ia sebut itu dengan mata yang kamur, rabun, atau mata yang sudah wulak-walik. Pendeknya, mata yang terkena penyakit skizrofenia.

Nah, beda lagi menurutku. Mata itu ada satu. Tidak perlu ada dua. Apalagi harus banyak segala. Bikin bingung saja. Yaitu, mata mata-mata. Apabila dikemudian hari, orang-orang percaya bahwa mata itu memang ada dua bahkan lebih, ya itu urusan masing-masing. Lha, kita kan harus toleran dan demokratis toh?

Yang pasti, mata-mata adalah segala hal yang membuat benda menjadi terlihat, dan kita ingin menatapnya lebih lama. Lebih akrab, dan mungkin lebih hangat. Bahkan tiba-tiba timbul keinginan ada di sisinya. Selamanya. Tak terpisahkan. Menjadi dua matakeping uang yang serasi.

Dan aku yakin sekali, pastilah kamu itulah orangnya. Dan, percayalah jika sudah seperti itu maka jadilah milikku. Aku yakinkan padamu, setelah itu mata itu tidak lagi hanya ada satu, atau pun ada dua seperti dibilang al-Ghazali dan Freud. Mata itu kini terbagi menjadi empat. Satu; mataku. Dua; matamu. Tiga, mata yang menyukaimu.

Dan yang mata yang keempat? Nah, itu dia hingga kini masih misteri. Dan aku yakin kamu sengaja menyembunyikannya. Kenapa kau menyimpannya begitu rapat? Aku yakin pasti kamu punya pertimbangan perselingkuhan. Makanya itu, aku jadi bingung sendiri tulisan ini gimana cara ngakhirinya.
Apa perlu mata kelima?

Hei, jangan berisik! Telingaku ini berpentium empat!

Meski begitu, telinga itu ada dua. Satu, telinga sebelah kanan. Dua, telinga sebelah kiri. Sementara kanan dan kiri terbagi menjadi tiga. Satu, di sebelah samping. Dua, di sebelah depan. Dan tiga, sebelah belakang.
Lalu...
kemudian..

alamak, sukar sekali ngasih ending.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar