31.1.08

KOTA-KOTA DI SANA


KOTA-KOTA DI SANA

Begini ceritanya. Suatu hari, aku menyaksikanmu jalan-jalan di kota itu. Kamu kan tahu sendiri, kota itu namanya Amsterdam. Seperti yang pernah kamu dengar, aku seringkali terngigau tentang kota itu.

Jangan memotong dulu, ini aku masih belum selesai bicara.

Nah, suatu saat datanglah waktu yang ditunggu-tunggu itu. Kamu duduk di bangku beton taman kota ini. Kita ngobrol. Sesekali kau bercerita, dulu kota ini tidak semerbak sekarang. Tidak sehiruk pikuk kini. Awal sejarahnya, dulunya satu kerajaan. Kerajaan Mataram. Kau bilang gara-gara si bule itulah, kerajaan menjadi terbagi-bagi.

Nah, sehubungan dan berkait dengan kota itu katamu ada cerita lain tersendiri. Katamu, itulah kota yang lebih artistik lagi. Kamu bercerita, kemudian aku dengarkan. Makanya, kalau malam sudah tiba aku sering teringat kembali bahwa di kota inilah pertemuan itu berlangsung dan menjadi abadi dalam benak. Kau tahu, aku menyimpannya begitu dalam di sana. Kubikin di situ, suatu museum paling heroik dari sekedar yang pernah kau tahu. Kau rasakan.

Baiklah, kau berceritalah dulu tentang kota itu. Sebab, aku masih saja di kota ini. Tak seperti dirimu yang sudah di kota itu. Kalau saja jarakruang bisa dikasih pintu gerbang, mungkin aku membuka kota itu dan kemudian mengunjungimu. Setelah itu, dari kota ini aku bawakan sekeranjang buah salak dari desa sana. Ya, Kaliurang itu. Kalau kau mau, tentu aku bawakan pula sepiring dua piring nasi uduk kesukaanmu.

Persoalannya, kenapa ketika kota ini tidak memiliki pintu gerbang ke kota itu kamu lalu membuka pintu di kota sana? Apa kau kira, setiap pintu selalu memiliki kota? Ingatlah tentang kota ini di kota itu.

Ah, kau selalu saja begitu. Aku melihatmu tidak lagi di kota itu. Membuatku gamang di kota ini. Apakah kau sudah memilih kota di sana? Sesungguhnya, kota inilah paling bersejarah yang pernah kau dalami. Maka, tinggalkan kota di sana, dan kembalilah ke kota ini. Bagaimana pun, kedatanganmu ke kota itu bagian dan merupakan kepanjangan dari kota ini.

Ah, kau selalu saja begitu. Bukankah tadi sudah kuceritakan tentang kota ini? Dan kau bercerita tentang kota itu? Lalu kenapa kau masih saja menengok ke kota di sana? Sial, tentulah itu karena si bule itu. Makanya, muasal kotamu yang awalnya satu kini menjadi terkotak-kotak. Aku menyesal bertemu denganmu jika demikian...

Kalau sudah demikian, ya...ya., sudahlah. Kutinggalkan kota ini untukmu. Dan kudekati kota-kota yang lain. Barangkali, di sana bakal ada kota lain. Kota yang satu. Kota yang berisi kota ini;kota itu. Yang pasti, jangan pernah berbicara lagi tentang kota di sana. Karena, segalanya telanjur menjadi kota yang berkotak-kotak.

Nah, pergilah sekarang. Karena, sebentar lagi ada kota tak berkota sedang menunggu. Meski sudah ada kota tak berkota, entah kenapa aku selalu saja menyesal; kenapa kota itu bukan kota itu? Kota ini?

Kapan kau tiba lagi di kota ini?
Dan aku datang ke kota itu?
Mengapa mendadak sudah tak ada lagi kota-kota?

Dengan demikian, kisah itu telah diceritakan dari generasi ke generasi hingga saat ini. Dan tetap tidak ada yang tahu kenapa kota ini sudah sedemikian lebar membuka pintu gerbang ke kota di sana. Makanya, cucuku; kakek sudah ngantuk. Saatnya kau tertidur. Besok, matahari akan datang membangunkan mimpimu.

Tidak.
Bukan kota itu cu..
Apalagi kota yang di sana.
Tapi tentang kota ini.
Ya. Kota ini.

Aduh, kenapa kau tidur dengan ngorok keras begitu cu?
Tentu kau sedang bermimpi tentang kota-kota itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar