30.1.08

KARENA MENJELASKAN MENGENAIMU TENTANG JIBRIL

KARENA MENJELASKAN MENGENAIMU TENTANG JIBRIL

II.
Nah, daripada ngotot membicarakan hal-hal berat di atas, ngomong-ngomong gimana jika berbicara tentang kita? Ketahuilah, karenamu-lah aku berdiri lantang di muka bumi hingga kini. Tegak di atasnya serupa badai. Apa kau tahu itu? Pertemuan denganmu membuatku paham apa itu badai. Paham apa itu gerimis.
Loh, Kau tidak percaya?

Baiklah kujelaskan saja. Badai itu adalah badai. Jika datang dia selalu berisik dan suka sekali bikin ribut suasana. Ketahuilah, karena kedatanganmu-lah aku mendadak serupa badai kemudian membikin bising di bibir telinga hatimu. Ketahuilah, karenamu-lah aku selalu terbersit seribu cara bertahan hidup kemudian menertawakannya. Apa kau paham itu?

Baiklah, kujelaskan lagi. Begini, kau serupa jibril bagiku. Mengalami titik pencerahan manakala sedang duduk di pegunungan rasa itu, kemudian melalui-mu Tuhan menganugrahkanku ribuan taktik-taktis mengatasi kehidupan.
Lho, kamu masih belum juga percaya toh?

KARENA MENJELASKAN MENGENAIMU TENTANG JIBRIL
III.
Hah, emang pusing bicara denganmu. Ada baiknya aku tidak meniru-niru adigum maut itu. Baiklah, kukatakan lebih terang lagi! Aku memang tidak pernah bertemu jibril. Saat itu, aku memang sedang ngibul agar kau selalu ada di sisi. Saat itu, aku ingin kau tahu apa saja bisa menjadi mendadak luar biasa jika memiliki pertemuan denganmu. Makanya, bukan maksudku mengatakan bertemu jibril. Aku hanya ingin bilang, berada di sisi terdekatmu segala sesuatu tak lagi serumit kalaku sendirian.

[Hei, jangan bingung begitu! Ah, buset sulit sekali mengatakannya.]

Aduh, begini. Yang ingin kukatakan sih sebenarnya cuma sedikit saja kok! Aku hanya ingin bilang; teruslah di sampingku. Jangan pernah pergi ke mana-mana. Temanilah aku mengarungi perjalanan ini dengan keberduaan itu.

[Huh, dasar. Kamu belum juga paham??]
[Oke, oke! Kujelaskan lebih ringkas lagi. Nah, sekarang dengar baik-baik...]

Aku hanya ingin bilang...

[Jadilah milikku. Selamanya!]

Gila! [Kau belum juga paham-paham?!]

Ah, mungkin karena aku terlalu banyak bicara saja.
Nah, baiklah. Tetaplah di situ. Tunggu sejenak saja di situ.
Jangan-jangan ke mana-mana dulu.
Kubawakan untuk-mu setangkai bunga melati.


[oh,ternyata kaupun tak juga pahampaham?!]
[alamak! Matilah aku!]

apa sebaiknya aku diam saja tidak bicara?
Ah, kemungkinan itu disebabkan jiwamu
terlalu fanatik pada basis ideologi batinmu

makanya, bukalah hati itu dan jadilah lebih pluralis
mengatasi perasaanmu
ataukah;
aku yang terkesan merumitkan suasana?
[What?? Aku terlalu mengada-ada katamu?!]
huh, lebih bagus jika kutinggalkan saja dirimu di situ!
Eh, maaf; berilah satu kesempatan...
[hei, jangan manyun begitu dong!]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar