26.12.07

.Pertarungan Otoritas Jawa Timur-Jakarta

.Pertarungan Otoritas
“kuasa” antara Jawa Timur-Jakarta

Kuasa Otoritas Majapahit-Mataram

Dalam sebuah diskusi mengenai novel antropologis, penulis novel Syaikh Siti Jenar—Agus Sunyoto—menyatakan bahwa watak dasar kerajaan Majapahit sisanya masih bisa disaksikan di beberapa wilayah di Jawa Timur—Surabaya, Pasuruan, dan sekitarnya. Sifat integritas; terbuka, lugas, dan tidak bertele-tele menurutnya merupakan bagian dari watak dasar kejaraan besar adiluhung tersebut.

Majapahit juga menampilkan sosok yang cerdas, logis, dan cerdik. Dia menyebutkan beberapa kecerdikan Mahapatih Gajah Mada dalam menaklukkan musuh. Artinya, kebesaran Majapahit terbentuk berkat kuasa “nalar”.

Berbeda dengan Majapahit, Mataram justru sebaliknya. Mataram lebih condong menampilkan kuasa “mitis-mitologis” dalam menegakkan kuasa. Fenomena ini dipotret Anderson sebagai upaya politik kuasa Jawa meneguhkan otoritasnya. Mataram menurutnya, secara kreatif menciptakan benda-benda yang disakralkan, dan menjadi pandangan hidup Jawa. Termasuk dengan pemunculan mitos Putri Roro Kidul.

Secara berkelakar Agus Sunyoto menyatakan, bahwa kemunculan mitos hantu, dan sejenisnya, justru baru ada di masa kerajaan Mataram. Menariknya, di zaman Majapahit, hal tersebut belum ada. Ini membuktikan, ada perbedaan besar dan mendasar di antara keduanya dalam merangkum sejarah menjadi besar.

Apabila Majapahit bergerak membawa kebesarnnya dengan dayanalar, Mataram cukup membekali diri dengan mitos Putri Kidul untuk menaklukkan batin masyarakat Jawa dalam gemgamannya.


Benturan politis Jawa Timur-Jakarta

Lontaran Agus Sunyoto di atas terbilang sangat menarik jika dikaitkan dengan situasi saat ini. Beberapa minggu yang lalu, Jawa Pos memberi ruang lebar membicarakan secara luas sepak terjang kepemimpinan Bung Tomo yang hampir terlupakan sejarah. Ternyata, dia ternyata belum masuk dalam peta kertas sebagai pahlawan nasional. Seperti dilansir Jawa Pos, proses menjadikannya sebagai pahlawan nasional ternyata sangat rumit. Sepertinya, Jakarta tidak semata memperumit situasi, lebih dari itu Jakarta rupanya sedang berusaha menenggelamkan watak Majapahit masyarakat Jawa Timur agar tidak muncul ke permukaan.

Di balik layar—dan tanpa disadari—tampaknya sedang bergerak proses peminggiran keteladan Bung Tomo di pentas sejarah nasional. Secara tersirat, Jakarta sedang mengalami ketakutan bawahsadar terhadap kekuatan kharisma terpendam masyarakat Jawa Timur. Ada kekhawatiran bawahsadar, terangkatnya keteladanan dia ke pentas nasional, tentu akan membangkitkan macan yang sedang tertidur. Jika macan itu terbangun, tentu saja posisi Jakarta menjadi terancam.

Dilihat dari cara Jakarta bergerak—cenderung pada wilayah kuasa pencitraan; simbolik; dan kampanye-kampanye politis media—bisa dibilang Jakarta merupakan manivestasi dari ruang batin Mataram. Jika Mataram mengokohkan kuasanya, di wilayah mitos-mitologis untuk menguasai tanah Jawa, Jakarta juga melakukan gerakan serupa—dengan membentuk kuasa mitos melalui pencitraan dan simbolisasi melalui berbagai media.

Dengan demikian, penenggelaman keteladanan Bung Tomo merupakan cara Jakarta menekan gaya Jawa Timur yang lugas, frontal, dan langsung terbuka pada situasi. Seperti halnya Mataram, tentu saja Jakarta tidak serta merta menekan Jawa Timur dengan frontal dan nyata, sebab dia sangat mengerti watak Jawa Timur yang terbuka dan langsung pada persoalan. Akan terlalu berbahaya. Masih banyak simbol-simbol yang bisa digunakan; birokrasi, undang-undang, dan tumpukan aturan pasal yang sudah disiapkan menggempur Jawa Timur. Jakarta tidak perlu lagi repot-repot menggunakan Mitos Putri Kidul, karena mitos itu kini beralihrupa. Jalur birokrasi sudah cukup untuk membungkam kepemimpinan Bung Tomo terangkat ke permukaan.

Asumsi ketakutan Jakarta ini bukan tanpa dasar. Tanah Surabaya banyak menyimpan peristiwa penting sejarah dunia. Contoh kecil saja, dua jenderal besar dunia tewas di tanah ini. Sebut saja, tewasnya Jenderal De Boor di tangan tokoh legendaris Sawunggaling, kemudian peraih rekor pemenang perang dunia—jenderal Mallaby—pun tewas di tangan pasukan Surabaya. Ini membuktikan warisan watak keprajuritan Majapahit masih berakar di Surabaya. Sawunggaling dan Bung Tomo merupakan perwakilan watak tersebut.

Bisa dibayangkan, apabila pamor kepemimpinan Bung Tomo terangkat ke permukaan. Maka, transfer kepemimpinan tersebut tentu akan secara cepat menjalar terhadap generasi muda. Watak langsung Surabaya, tentu saja dikhawatirkan mampu menggeser peran Jakarta yang cenderung mengandalkan permainan simbolik media dan kampanye teoritis. Layaknya sosok Putri Kidul, media menjadi jurus pembungkam daya kritis rakyat di tanah air.
Tentu saja, pemberangusan KKN, illegal logging, dan berbagai kasus besar lainnya tak cukup bisa dihadapi dengan cara halus dan simbolik. Ia butuh gaya terbuka, langsung, dan tegas seperti yang dimiliki Surabaya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar