26.12.07

Pemimpin Besar Itu Dipanggil Bung Tomo

Pemimpin Besar Itu Dipanggil Bung Tomo

Selama banteng-banteng Indonesia masih memiliki darah
yang mampu membasahi secarik kain putih, merah dan putih!!
Selama itu pula, kita tidak akan menyerah pada siapapun!!
Saudara-saudara!!
Kita akan terima tantangan Inggris itu!

10 November 1945. Suatu hari yang panas, Surabaya menggelegak. Dengan suara gagah, bung Tomo meluapkan kekuatan suaranya di depan radio pemberontakan Surabaya.
Di bawah komando BJ. Mallaby—jenderal pemenang perang dunia—pasukan sekutu berderak memasuki kota Surabaya pada 25 Oktober 1945. Kemudian, pada 27 Oktober, pasukan itu menyerbu penjara republik, kemudian membebaskan para perwira sekutu dan RAPWI. Peristiwa tersebut dibalas, hingga menyebabkan banyaknya pasukan Mallaby yang tewas.
Puncaknya, jenderal yang dianggap jenderal peraih rekor pemenang perang dunia tersebut tewas tertembak. Dimulailah perang besar itu, Surabaya berdarah! Perang revolusi 1945 pun berkobar. Dari radio, tak kenal keringat, Bung Tomo bergerak membawa revolusi itu menggaung.
Lebih hancur daripada terjajah!!
Teriaknya bergolak. Surabaya meletuskan mesiunya. Dari Surabaya, gelegak kemerdekaan itu tiba-tiba memiliki gigi. Dan, dunia langsung tertegun. Ternyata, Indonesia sedang mengaum. Macan itu sedang menggerakkan taring-taringnya.

Lalu, bagaimana kabarmu di era reformasi ini, wahai negeri?
Tergolek dirimu di luar pangkuan.
Jakarta terlalu bertele-tele
Kau perlu Jawa Timur untuk bergerak!
Kau perlu, Bali, Sumatera, dan lainnya untuk bangkit!

Kau…
Butuh satu-kesatuan!
Keseimbangan!

Jadilah Majapahit!
Jadilah Mataram!
Jadilah Sriwijaya!

Jadilah dirimu sendiri.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar