24.12.07

Menjadi ombak; menjadi badai

PERKENANKAN AKU Menjadi badai. Pada setiap dentang malam aku akan datang menjenguk. Kau akan merasakan kehadiranku terasa menggetarkan. Pada saat itu, senyap takkan lagi mampu menenangkan. Karena puisi lebih menggetar melalui sapaan badai.

“Dan izinkan aku jadi ombak.” Katamu ikut memesan. Aku tertawa. Sepotong badai berjumpa dengan sepotong ombak di paruh malam? Apakah layak? Akulah badai paling perkasa dan akan menundukkan ombak sehingga berlari-lari di sepanjang samudra, tanpa ada lagi tempat paling aman meneduh.

“Maaf, aku akan mendatangimu di siang hari yang panas.” Katamu tenang. Aku tersenyum acuh. “Saat kau merasa kehausan. Kau pasti akan merasakan kedatanganku akan menggugah kemapanan.”

Ah, bagaimana pun akulah benda dan makhluk terkuat. Aku takkan terkalahkan. Oleh apapun. Aku akan menghampirimu dengan amukan angin terhebat, hingga ombakmu berdebur tak karuan.

“Baik aku setuju.” Cetusku. “Sebab aku pun ingin menggodamu di saat malam yang sering membuatmu tak bisa tertidur. Badai itu akan membelai, hingga engkau terlarut dalam gulungan ombakmu.”

Kau bersidekap, dan berkata dengan ayunan kuat ombakmu.

“Aku pun demikian, aku akan terus menggulung-gulung siangmu. Hingga engkau tersadar, matahari belum tenggelam untuk membenahi suasana malam yang penuh buih; yang membuat segalanya tak beraturan.” Gelombang ombakmu bergolak meliuk dan mengertakku dengan auman samudra yang membiru. Aku tertawa sinis.

“Ya, aku menunggu saat-saat semacam itu.” Sahutku sambil lalu memanggil angin topan dan menitahkan mereka menggiring ombakmu ke tepian. Kau mendengus. Aku terbahak kemenangan. Memang, akulah makhluk terkuat yang pernah diciptakan Tuhan ke dunia ini.

“Kau harus percaya, akulah makhluk terkuat dari yang diciptakan-Nya.”
“Dan kau pun harus meyakini, akulah makhluk terlembut dari yang pernah dibuat-Nya.” Balasmu tak mau kalah.

Lalu, seperti yang diakui semua umat manusia, ombakmu berkelana menenggelamkan kapal-kapal tercanggih dari yang pernah diciptakan manusia. Akan tetapi, semua manusia juga pasti mengakui tentang kehebatan badai menghancurkan peradaban tertinggi manusia yang menjadikannya tiba-tiba terhempas runtuh. Dan kau harus percaya itu. Karena akulah makhluk terhebat itu. Lihatlah, dan bacalah di kitab-kitab suci tentang titah sang penitah pada badai menghempaskan umat-umat terdahulu. Kau terkekeh.

“Hei, apa tidak ingat kisah Raja Fir`aun?” katamu menggugat. “Karena ombakkulah, Musa berlalu dengan tenang yang berwibawa!”

Aku mendengus. Ternyata badai dan ombak bukanlah satu porsi yang berbeda. Ya, karena mungkin sesungguhnya kitalah tangan kiri-Nya. Antaraku antaramu kemungkinan diciptakan secara sempurna oleh-Nya bukan untuk berbenturan. Masing-masing menyimpan sisi lebih dan kekurangan. Mungkin lebih lengkap, jika badai dan ombak itu saling berpasangan? Mungkinkah?

####

BUIH SANG Siang belum tiba, manakala aku sibuk menahan, dan menata gempuran kumpulan ombakmu. Siang menjadi saat paling ditunggu, sementara malam menjadi pancaroba paling menyebalkan. Sesungguhnya, aku tak pernah sungguh-sungguh menggulung ombakmu di kala malam, tetapi aku memang selalu setia menunggu siang agar punya kesempatan digoda debur ombak itu. Dan kau tidak pernah mengerti, gulungan ombakmu bukanlah menakutkanku, dan pukulan badaiku pun bukan keangkuhanku. Aku juga tidak sesombong itu harus berhadapan denganmu. Kau terlalu manis untuk diganggu.

“Hei, kenapa kau diam?” katamu mendadak memudarkan renung. Padahal, sang malam belum begitu memudar. Sang Fajar pun baru saja terlihat. Rupanya, kau tidak sabar lagi menunggu terggangu. Kini kau mulai tertawa panjang. Mungkin kepanjangan, karena saking terlalu panjang dan lama. Kau gulung ombak itu dan membawa bidak badaiku ke tepian landai. Aku terbirit-birit segera menepi, dan naik menukik ke angkasa. Kau makin tergelak gila saja.
“Kau mulai ketakutan? Menggigil? Atau kau malah ingin segera lari secepat-cepatnya?” katamu menghardik. Aku tertawa lebar. Tiba-tiba ombakmu bergulung-menggulung. Badaiku yang manis tersisih meringis. Aku terpana [tiba-tiba kau begitu mempesona setelah itu].

Terik matahari tampak meninggi. Aku mulai kehausan, sementara ombakmu kian menggila memutar-mutar ruang keangkuhan. Kadang-kadang, aku sengaja membiarkanmu menggangu ketenangan. Kau tak pernah mengerti bahwa bukan karena menyimpan, atau demdam dan ada kebencian aku meladenimu. Sejujurnya, aku sengaja menantangmu agar kau selalu tergugat dan tergugah selalu ada di setiap detakku.

“Hei, mana kesombonganmu??” hardikmu keras-keras diselingi debur bergemuruh dari ombakmu. Kini kau berkacak pinggang bangga. “Kau mengakui kekalahan? Atau bahkan menyerah? Ketahuilah, dan akuilah bahwa kau mengalami kekalahan sekarang! Hua..haha!!”

Aku sengaja tersenyum dan agak sinis sedikit.

“Semoga Kita menjadi pasangan musuh yang serasi.” Sahutku tenang. Lalu, dengan santai kubelai ombakmu yang segera kau tepis hingga badaiku terjungkal. Tetapi aku kembali berusaha tegak. Sekali lagi kau berkacak pinggang, kemudian kau berlalu dengan acuh dan angkuh. Ah, siang masih belum selesai, kau ternyata meminggirkan diri dan menghampiri karang. Di sana, kau mulai meneduhkan diri. Entah kenapa, apakah kau sudah merasa jenuh dengan permusuhan ini?

“Aku sudah puas mengalahkan keangkuhanmu. Hari ini, aku memberimu satu kelegaan. Aku memilih tidak membalas. Karena, aku bosan untuk membalas demdam.”
“Apakah kau tidak akan kembali lagi?” tanyaku cemas. Kau terbahak panjang. Dinding karang bergoyang diterpa tawamu. Karang tampak mulai gelisah. Ah, kau telah membangunkan tidur panjangnya!
“Kenapa? Apa kau mulai merasa jera?” tandasmu. “Ini kali terakhir aku mengganggumu. Jadi, bersyukurlah!”

Rupanya, ini kata-kata terakhirmu sebelum akhirnya kau pergi dan menghilang di balik mendung hitam di atap langit. Dan lihatlah, karang yang terbangun mulai mengucek-ucek kedua matanya. Mungkin dia keheranan, suasana yang hiruk-pikuk tiba-tiba kembali menjadi senyap. Begitu senyap.

Tiba-tiba aku ingin sekali berpuisi. Dan aku teramat ingin kau menjadi pendengarnya. Nun di kejauhan, seruling senja mulai remang-remang menampakkan diri. Badaiku, mulai semilir.

badai menggertak jejak
ombak ratakan pijak
dan angin semilir mulai tersendiri tersaduk tak meretak;[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar