24.12.07

"KIDUNG SAMUDERA"

BADAI KULMINASI

SEKIAN LAMA Berdiam. Tak juga bergaung. Gema tambah tipis di lautan. Menjadi buih. Terpental-pental ombak ke tepi dibawa ombak. Deru bergemuruh. Berusaha tergerak ke tengah. Dan, ombak mengembalikan lagi ke pantai sebelum sampai. Arus begitu jeram berdenyut. Ingin tenggelam. Tak tenggelam. Timbul ke permukaan, kemudian kembali ke pasir pesisir yang landai berdesir.

“Gimana kabarmu, mas?” tanya seseorang. Itulah dirimu. Kau.
“Baik.” Jawaban pendek. Seperti biasa, selalu gugup di hadapanmui. “Selamat ya!”
“Selamat? Selamat apanya mas?” tandasmu menggoda.
“Karena, kau resmi menjadi badai.” Kau tampak anggun menampilkan seutas senyum. Bangga saksikan itu. Binar di matamu, bagai kumpulan bintang di puncak kepala.
“Badai? Hehe, terima kasih. Lalu, bagaimana dengan badaimu?” Saat kau bertanya itu, ada rasa galau menerpa.
“Haa, jangan menggoda!”
“Hei, aku serius mas…”
“Hehe, aku pun sangat serius memberikan jawaban. Entahlah, sampai kapan angin semilir ini selalu sepoi-sepoi. Badai seakan enggan berderu. Makanya, aku selalu berteduh pada angin semilir.”

KALAU KAMU Tahu, kaulah angin semilir itu. Karenamu, meski buih balik ke pantai, ia tetap memaksa tergerak ke tengah. Serupa ombak dan buih, kaulah ombak itu; mengembalikan buih ke landai. Bertemu halusnya pasir pesisir yang menaung di pinggiran. Arus begitu jeram. Dan, lautan begitu dalam. Badai masih terlalu abstrak. Karena ombakmu, tak jadi tenggelam di dasar lautan.

Tak peduli meski kau sudah berpadu dengan karang itu; sebab persemian tumbuh kadang tak mesti selalu tertanam. Tidak jarang, semerbak yang harum sudah cukup menguapkan jenuh, dan menguatkan segala keinginan kehendak agar tetap bertabuh;terjaga!


Karena itu, menjadi badaimu atau tidak tidak menjadi soal-soal penting. Percayalah, teruslah menjadi badai. Dan, aku akan selalu senang menyaksikanmu dari kejauhan. Kutunggu. Kutunggu kau, menjadi samudera. Agar, kau tak terlalu berlama-lama selalu menggugat sang karang.


“WAHAI, ANGIN SEMILIR!!”
Terdengar suara-suara di kejauhan. Bukan suaramu. Dari kegelapan, terlihat gulungan warna abu-abu mengilau, kemudian bergulung-gulung berdatangan mendekat. Kumpulan badai rupanya sedang berdatangan. Rasanya, pengen menghindar jauh-jauh. Kemudian, memaksa tergeret ke tengah. Ingin rasanya, tenggelam ke dasar laut, lalu tak muncul-muncul ke permukaan.

Kumpulan badai mulai mengepung. Ombak bergemuruh berpental-pental. Buih akhirnya, kembali lagi ke pantai landai. Kumpulan badai segera berdiri berhadapan. Dengan serta-merta mereka merengkuh dan memapah; mendekap. Begitu hangat. Begitu dekat. Begitu akrab. Tiba-tiba, ada kekuatan menyembul dari dalam dada bergolak. Kedatangan kumpulan badai membuat segala suasana menjadi tenang. Begitu kokoh. Menjadi samudera.

“Lho, dengar-dengar kau sudah menjadi badai? “ cetus mereka bertubi-tubi. “Kok anginmu masih semilir?”
“Jangan berkata demikian. Anginku memang semilir kok!” Kumpulan badai terbahak-bahak. Mereka menyalami kedua tangan kuat-kuat, kemudian menepuk-nepuk bahu. Ada rasa tersangga karena hal itu.
“Salut!” kata mereka. “Karena kau tetap setia berjelaga. Tetaplah tangguh. Kami tahu betul, badai itu pastilah segera bergemuruh dalam dada.”

TAK ADA Ruang untuk terlalu banyak berbicara. Kemudian membiarkan kumpulan badai menetap sejenak, itu sudah sangat cukup melemahkan gundah.
“Ingatlah, ingatlah tentang semangat badai kita dahulu. Kami datang hanya untuk memastikan, apakah semangat itu masihkah ada.”
Mereka kembali menepuk-nepuk bahu. Kemudian, mereka pamit pergi. Reruntuhan semangat yang tadinya menjadi puing-puing berserak, kembali bergerak merapikan diri setelah tersapu hempasan kumpulan badai mereka. Terima kasih atas kedatangan kalian! Wahai badai-badaiku![]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar