19.11.07

Cinta Menembus Tembok

SEKIAN Sudah berdiam. Ternyata kisah itu belum berakhir. Selalu ada alur yang membawanya senantiasa bergerak meliuk. Semestinya kian usang dan menyebalkan ia berjelaga. Ingin segera mengusaikan, akan tetapi semakin diusaikan bertambah ia berjelaga ke tengah arus deras.

Seperti halnya dirimu yang mungkin sudah sangat dongkol, begitu juga diriku. Akan tetapi, apa daya selalu saja ada alasan agar ia tetap tak terselesaikan.
“Kenapa kamu masih setia menjelaskan dan ada di sana?” seseorang berkata.
“Entahlah. Aku selalu tak pernah bisa mendiamkan melihat ketidaktenangannya..”
“Itu urusannya. Bukan urusanmu. Lagipula perempuan tidak cuma satu. Dia bukan satu-satunya bung!.”
“Perempuan memang tidak hanya satu. Tapi perempuan seperti dia hanya ada satu!” lontarku datar. Dia tertawa panjang.
“Sudahlah, pastikan saja semuanya, kan beres! Kau pasti akan sangat tersiksa jika tiba-tiba ternyata dia sudah dimiliki orang lain. Terlebih lagi dia tidak mencintaimu.”

Aku mengangkat bahu. Aku tambah bosan saja.
“Kalo memang dia jodohku, jangankan Napoleon dengan segala teknik dan strateginya, atau Nabi Sulaiman dengan segenap kekayaannya, bahkan Nabi Yusuf sekalipun takkan pernah sanggup menyentuhnya!. ” tegasku saking jenuhnya. Akan tetapi, aku sendiri terhenyak dengan kata-kataku sendiri. Benar juga, jika memang takdir siapa yang mampu menghalang?
“Akan tetapi, meski Napoleon, Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf bersatu dalam diriku, jika bukan takdir., aku terpaksa gigit jari…”

Teman itu tertegun, kemudian tertawa ngakak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar