3.9.07

TUHAN DAN LOGIKA

TUHAN DAN LOGIKA

APA Ada hubungan antara tuhan dan logika? Dan apakah logika memang berhubungan dengan Tuhan? Pertanyaan ini tentu saja sangat dijauhi oleh beberapa kalangan. Pertama, hal ini berhubungan dengan pandangan tuhan “negatif” sehingga perdebatan mengenai tuhan disingkirkan. Kedua, pandangan ketakberhinggan sang adikuasa sehingga tidak memerlukan prasangka lebih jauh, cukup diterima dan dijalani saja. Ketiga, karena membahas tuhan itu sama saja mengumpulkan debu di padang pasir.
Di sudut lain, ada bagian logika dan tuhan sengaja dibenturkan. Misalnya, tokoh semacam Nietche. Dia mengemukakan adigum terkenalnya, “tuhan telah mati”. Baginya, karena persepsi tentang tuhan-lah maka manusia memiliki alasan untuk menyerah dan pasrah kepada realitas. Akibatnya, manusia “kehilangan” potensi “kuasa” kemanusiaan. Oleh karena itu, Nietche menyatakan agar manusia membunuh tuhan-tuhan kecil dalam batin dan pikirnya. Mungkin inilah yang dimaksud Freud dengan “ego”. Manusia tidak lagi kuat karena merasa ada sandaran yang bisa dituduh sebagai tuduhan kegagalan dan kerapuhan hidup. Freud kemudian menegaskan kata “tuhan” dan “agama” menjadi lahan empuk ketidakberdayaan manusia ketika berhasrat lari kenyataan dan kekuatan realitas yang dinilai lebih “kuat”, lebih hebat dari kemampuannya untuk “bertarung”. Sehingga tuhan dan agama diposisikan sebagai tidak lebih dari sekadar “mitos sinyal kekalahan”.
Logika optimis datang dari Erich Foom. Baginya logika manusia merupakan “bagian satu sisi” dari kehidupan manusia, sedangkan sisi lainnya adalah dunia “nonlogika”, yang dipersepsikan sebagai “mitos” ataupun wilayah keyakinan yang menjadi pegangan manusia. Atau tepatnya, lebih pas dikenal dengan “spritualitas”.
Artinya, tidak selalu segala sesuatu sesuai dengan logika. Kehidupan itu tidak menetap pada satu kemapanan, namun esensial dari kehidupan ketetapan untuk mengalami situasi “perubahan” maka perubahan adalah kemapanan mutlak dari kehidupan.
Daniel Goleman bahkan menemukan, kehidupan manusia akan serasa gelap apabila dipahami dan disadari dari sisi logik semata. Maka, menjadi wajar rata-rata orang-orang cerdas, pintar—juara-juara dunia—mengalami frustasi, depresi bahkan timbul keinginan anarkis dan mulai mengarah pada tindakan perusakan—pribadi ataupun sosial—manakala mengalami kebuntian dan jawaban-jawaban kehidupan yang dijalani. Dihadapi.
Pandangan lebih selaras dikemukakan dari khazanah Cina. Cina dengan Tao-nya mengenal mekanisme ying-yang yang mengatur kehidupan. Teori ini berpandangan, kehidupan memang tersusun dari dua unsur—ying-yang; keras dan lembut, jahat dan baik, logis dan tidak logis. Adakalanya sesuatu butuh penjelasan logis, dan adakalanya dibiarkan saja dijalani saja tanpa perlu digugat kebenarannya—misalnya, mengenai ketuhanan.
Apapun namanya, maka itulah kehidupan. Dalam khazanah Islam kemudian dengan tenang selalu ditutup dengan kalimat khas, renungkanlah tentang mengenai makhluk dan dan tidak perlu merenung mengenai misteri zat ketuhanan. Memang misteri. Sesuatu yang misteri sering kali menggugah logika untuk melakukan penggugatan. Sudah siap menggugat? Atau memilih tergugah? Apa itu logis? Lalu, apakah memang ada relasi antara logika dan Tuhan? Memang tidak logis.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar