9.8.07

Untuk Sejarah Yang Usai

Untuk Sejarah Yang Usai

Text Box:  I

Terlihat lusuh itu

Terlihat ia bersenandung

Mungkin memang semacam itu polah manusia

Kadang-kadang harus dimengerti

Sebelum menyapanya; dan ia bisa kembali tersenyum

Terlihat lusuh itu

Semarak ingin membentak, menggertak

Kalau bisa berteriak apa saja

Tentang deru-deru apa yang ingin diungkapkan

Apa itu yang disebut pergulatan?

Apa itu yang dipanggil, panggilan jatidiri?

Atau ini cuman sekedar ketidakpastian pertanyaan mengganjal

seperti yang selalu tergantung menggoda?

Mencari-cari pertanyaan

Mencari-cari apa yang bisa dijadikan jawaban;

sebuah pelarian

sesungguhnya Ia bukan mengejar-nya

sesungguhnya yang dikejar adalah diri_nya sendiri

II

Hanya ada satu permintaan

Buang tatapan itu

Karena ia berisi nostalgia

Ia adalah potongan masa lalu yang telah usai

Aku bukanlah sosok yang selalu kau imajinasikan

Aku tidak sesempurna yang selalu kau bayangkan

Jangan terlalu percaya dengan rasa yang kau sebut dengan cinta

Ia sebatas buih keindahan dari kata-kata yang didramatisir

Hidup tidak seperti penciptaan puisi

Dibikin sedemikian indah, dengan sedikit menyembunyikan selongsong peluru

Aku bukan tuak yang memabukkan

Tapi bisa jadi bius harapan dihati

membuatmu terkulai seperti jurus mabuk

dan membuatku berlari seperti seekor semut yang mencari lobang hitam

sejujurnya, kehadiranmu adalah yang terindah

sejujurnya, sesuatu menjadi begitu indah karena ia tak mampu dimiliki

Dan aku menyadari, sebentar lagi; cinta itu segera menjelma cinta sejati

maka, buang tatapan itu

karena ia berisi potongan nostalgia; dari masa lalu yang usai.[]

Dari jauh aku melihat-Mu

Dari deket tidak jarang aku melupakan

Jarak, ruang dan waktu membekas kabut-kabut yang menusuk

Betapa aku memang mengenal-Mu

Saat-saat aku sangat menyadari, aku memang betul-betul merasa tidak pernah mengenal

Kala waktu-waktu mendesak dan membunuh

Kau berupaya menemui

Dan aku berusaha berlari

Betapa indah bertemu dengan-Mu

Semuanya berjalan tanpa bahasa

Tapi bahasa begitu mengenal-Nya

Saat-saat aku berlari-lari kecil dipersimpangan kota

Saat-saat jejak-jejak mulai tak menyisakan bekas

begitu setia Dia hadir membentak

Sesungguhnya,

Ingin kutampar wajah-Mu

Namun, semuanya berjalan tanpa bahasa

Tapi bahasa begitu mengenalnya

Sesungguhnya,

Tak ada yang benar-benar membuatku begitu sentimentil

Tak ada yang benar=benar membuatu begitu perkasa

Kau menamparku begitu keras, memaksa untuk tunduk menyerah

Lalu ingin kukatakan;

Aku tak benar-benar jatuh

Atau aku benar-benar telah bangkit

Kau telah membuat segalanya serba ambigu

Dan akupun berhenti di perhentian itu;

Menyerah.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar